Guntur Romli: Pertemuan Megawati-Prabowo Itu Persahabatan, Bukan Spekulasi “Tafsir Karet”

0 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Riuh rendah spekulasi politik pasca pertemuan Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri dan Presiden Prabowo Subianto pada 19 Maret kemarin memancing reaksi tegas dari DPP PDI Perjuangan. Politisi PDI Perjuangan, Mohamad Guntur Romli, angkat bicara untuk meluruskan narasi negatif yang terus membingkai langkah politik Megawati.

Guntur Romli menyoroti standar ganda para pengkritik. Saat Megawati berhalangan hadir pada 3 Maret karena agenda partai di Bali, beliau dituduh sakit hati. Namun, saat pertemuan 19 Maret terjadi, narasi berubah menjadi tuduhan “mengemis kekuasaan”.

- Advertisement -

Guntur menegaskan bahwa hubungan kedua tokoh ini melampaui urusan teknis kehadiran protokoler. Baginya, pertemuan maupun ketidakhadiran tidak seharusnya menjadi dasar serangan politik yang tidak berdasar.

“Padahal Bu Mega & Presiden Prabowo berkali-kali bertemu dan berkali-kali tidak bisa bertemu. Harusnya kejadian bertemu dan tidak bisa bertemu tidak menjadi spekulasi, tafsir ‘karet’, apalagi tuduhan yg aneh-aneh,” tegas Guntur Romli dalam keterangannya, Jumat (20/3/2026).

- Advertisement -

Guntur juga menggarisbawahi posisi politik partai yang tetap konsisten sesuai mandat Kongres VI 2025 dan Rakernas I 2026. Pertemuan hangat dengan Prabowo tidak mengubah garis perjuangan PDI Perjuangan sebagai pengawal demokrasi dari luar kabinet.

Ia mengingatkan bahwa kesehatan demokrasi bergantung pada adanya kekuatan penyeimbang agar tidak terjebak dalam absolutisme yang korup.

“Hingga saat ini, Bu Megawati dan PDI Perjuangan tetap berada di luar pemerintahan. Tugas mengawal demokrasi, checks and balances dan menjadi kekuatan penyeimbang sebagaimana ditetapkan dalam Kongres VI 2025 dan Rakernas I 2026,” lanjutnya.

Dalam pertemuan tersebut, Guntur memandang Megawati sebagai sosok senior berpengalaman yang tidak akan pelit berbagi ilmu bagi juniornya yang rendah hati. Ia mengingatkan kembali rekam jejak Megawati yang sukses membawa Indonesia keluar dari krisis pasca-Reformasi 1998, termasuk keberhasilan dalam kebijakan ekonomi dan kedaulatan negara.

“Bu Mega tak akan segan-segan berbagi pengalaman: baik diminta atau tidak diminta. Tentang bagaimana Bu Mega menghadapi krisis multidimensi pasca Reformasi 1998 yg jauh lebih hebat dan menantang dari zaman sekarang. Dan beliau tidak hanya ‘survive’ tapi juga sukses,” ungkap Guntur.

Menutup narasinya, Guntur Romli melihat pertemuan di penghujung Ramadan ini sebagai simbol silaturahmi yang murni untuk kepentingan bangsa. Momen ini diharapkan membawa keteduhan bagi seluruh rakyat Indonesia.

“Apalagi pertemuan itu di akhir bulan Ramadhan, yang memperkuat silaturahim, menyiram kesejukan dalam momen lebaran. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Mohon Maaf Lahir dan Batin,” pungkasnya.

- Advertisement -
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
0 Shares
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut

Berita Terkait

Berita Lainnya

DKI JAKARTA
☀️
00:00:00
Memuat Kalender...
MEMUAT... - ---- H
MEMUAT... 00:00
-- : -- : --

Berita Terbaru