HOLOPIS.COM, JAKARTA – Pemerintah meminta masyarakat tidak khawatir terhadap pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level Rp17.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Pemerintah menilai kondisi tersebut masih dalam batas wajar di tengah gejolak ekonomi global yang dipicu konflik geopolitik di Timur Tengah.
Kepala Badan Pengendalian Pembangunan dan Investigasi Khusus (Bappisus) Aries Marsudiyanto menegaskan fundamental ekonomi Indonesia masih kuat sehingga diyakini mampu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah ke depan.
“Pada prinsipnya ekonomi Indonesia kuat, enggak usah khawatir ya,” ujar Aries di Istana Kepresidenan, Jakarta, dikutip Holopis.com, Selasa (10/3/2026).
Menurutnya, pemerintah telah mengantisipasi dampak ekonomi dari konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran. Presiden Prabowo Subianto bahkan telah mengumpulkan kementerian dan lembaga terkait untuk menyiapkan langkah strategis guna menghadapi potensi dampak ekonomi dari eskalasi konflik tersebut.
“Kemarin pak Presiden juga udah mengumpulkan semua. Kita meeting all-out setiap saat untuk bangsa dan negara,” papar Aries.
Aries juga memastikan kebutuhan pokok masyarakat tetap dalam kondisi aman meskipun situasi global sedang bergejolak. Ia menyebut stok pangan, bahan bakar minyak (BBM), dan energi nasional saat ini masih terjaga dengan baik.
“Jadi prinsipnya aman lah semuanya ya. Pangan, BBM, energi. Fundemental ekonomi kita kuat, Indonesia kuat. Enggak usah khawatir tentang itu. Semoga perangnya cepat selesai,” ucap Aries.
Pernyataan serupa juga disampaikan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang menilai fondasi ekonomi nasional masih solid. Dengan kondisi tersebut, ia optimistis nilai tukar rupiah dapat kembali stabil.
“Selama fondasi ekonomi kita bagus, mengendalikan rupiah lebih gampang dibanding kalau ekonomi lagi berantakan,” kata Purbaya.
Pemerintah, lanjut Purbaya, akan memastikan stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga, termasuk menjaga kecukupan likuiditas dalam sistem keuangan sebagai langkah untuk menstabilkan nilai tukar rupiah.
Kementerian Keuangan juga terus berkoordinasi dengan Bank Indonesia untuk memantau pergerakan rupiah di pasar keuangan.
Menurutnya, sinergi yang kuat antara pemerintah dan bank sentral menjadi kunci dalam menghadapi gejolak pasar global.
“Jadi, kerja sama yang enak antara pemerintah dengan BI perlu untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Kalau kompak seperti ini, enggak terlalu sulit mengendalikan gejolak pasar dunia,” jelas Purbaya.


