HOLOPIS.COM, JAKARTA – Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) melaporkan militer AS mengerahkan pesawat pembom B-52. Pesawat siluman itu sudah menyerang lebih dari 1.700 target di seluruh Iran dalam 72 jam pertama Operasi Epic Fury.
Mengutip Al Arabiya, Rabu, (4/3/2026), CENTCOM mengeluarkan update pembaruan harian melalui lembar fakta terkait serangan ke Iran. Jumlah total target yang diserang meningkat dari 1.200 titik yang diterbitkan dalam 48 jam pertama operasi militer AS-Israel.
Dalam perkembangan yang patut dicatat, lembar fakta itu, juga mengungkapkan bahwa pesawat pembom B-52 digunakan selama serangan.
Pada hari Senin, Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine mengatakan CENTCOM akan menerima pasukan tambahan di kemudian hari. Tidak jelas kapan tepatnya pesawat pembom tersebut digunakan.
Ini terjadi setelah pesawat pembom siluman B-2 dan B-1 digunakan dalam serangan sebelumnya.
Markas besar pasukan Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) hancur selama serangan awal. Target lainnya termasuk: Pusat Komando dan Kontrol; Markas Besar Gabungan IRGC.
AS meningkatkan tekanan militernya terhadap Iran lewat Operasi Epic Fury. Dalam 72 jam pertama, lebih dari 1.700 target diklaim telah dihantam dengan pesawat B-52, menandai salah satu eskalasi militer terbesar Washington di kawasan dalam beberapa tahun terakhir.
Dalam lembar fakta terbarunya, CENTCOM mengungkapkan penggunaan pesawat pembom strategis B-52. Keterlibatan B-52 menjadi sorotan karena sebelumnya operasi lebih banyak melibatkan pembom siluman seperti B-2 dan B-1.
Jenderal Dan Caine, menyatakan bahwa CENTCOM akan menerima tambahan pasukan dalam waktu dekat. Pernyataan ini perkuat sinyal bahwa operasi belum mencapai puncaknya dan masih berpotensi berkembang.
Selain markas IRGC, AS dan Israel menyasar fasilitas vital militer Iran turut menjadi sasaran seperti Pusat Komando dan Kontrol,
Markas Besar Angkatan Udara IRGC, Sistem Pertahanan Udara Terpadu, Lokasi Rudal Balistik, Kapal Angkatan Laut Iran,
Kapal Selam Angkatan Laut Iran, hingga Lokasi Rudal Anti-Kapal
Daftar target itu menunjukkan bahwa operasi ini tak hanya bertujuan melemahkan satuan tempur. Tapi, juga memukul sistem komando, pertahanan udara, hingga kemampuan proyeksi kekuatan laut Iran.
Sebelumnya, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, memnyatrakan Iran siap menghadapi konsekuensi jangka panjang dari eskalasi militer tersebut. Larijani mengkritisi Trump yang sudah menjerumuskan kawasan Teluk ke dalam kekacauan
“Trump telah menjerumuskan kawasan ini ke dalam kekacauan dengan ‘fantasi khayalannya’ dan sekarang takut akan lebih banyak korban jiwa di pihak tentara Amerika,” kata Larijani dalam unggahan di media sosial, dikutip dari Asia Times pada Rabu, (4/3/2026).
Larijani mengingatkan agar Washington bahwa Iran siap perang panjang melawan AS-Zionis Israel.
“Iran, tidak seperti Amerika Serikat, telah mempersiapkan diri untuk perang yang panjang,” tutur Larijani.

