HOLOPIS.COM, JAKARTA – Raja Yordania Abdullah II menerima panggilan telepon dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Senin (2/3). Percakapan tersebut membahas perkembangan terbaru konflik di Timur Tengah serta dampaknya terhadap stabilitas kawasan dan global.
Dikutip Holopis.com, Selasa (3/3), dalam pembicaraan itu, Raja Abdullah II menyampaikan sikap tegas Yordania terkait situasi yang terjadi. Berdasarkan pernyataan resmi Istana Kerajaan Yordania, sang raja menolak serangan Iran yang menyasar wilayah Yordania dan sejumlah negara lain di kawasan.
Raja Abdullah II juga menekankan pentingnya upaya bersama untuk meredakan ketegangan yang terus meningkat. Ia menilai langkah deeskalasi menjadi kunci dalam memulihkan stabilitas serta membuka kembali peluang tercapainya perdamaian yang berkelanjutan.
Yordania sendiri berada dalam posisi strategis di kawasan dan selama ini menjadi sekutu utama Amerika Serikat di Timur Tengah. Negara tersebut juga berbatasan langsung dengan Israel serta memiliki hubungan keamanan yang erat dengan sejumlah negara Teluk.
Dalam beberapa hari terakhir, Yordania dilaporkan meningkatkan kewaspadaan militernya menyusul gelombang serangan rudal dan drone yang melintasi wilayah udara regional. Otoritas setempat juga memperketat pengamanan fasilitas vital dan bandara sebagai langkah antisipasi.
Percakapan antara Abdullah II dan Trump berlangsung di tengah eskalasi konflik yang dipicu serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel ke sejumlah kota di Iran pada Sabtu (28/2). Serangan tersebut dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei bersama beberapa anggota keluarganya, komandan militer senior, dan warga sipil.
Iran kemudian meluncurkan serangan balasan berupa rudal dan drone yang menargetkan wilayah Israel serta pangkalan militer Amerika Serikat di berbagai negara Timur Tengah. Situasi tersebut mendorong sejumlah negara untuk menyerukan penahanan diri guna mencegah konflik meluas.


