HOLOPIS.COM, JAKARTA – Kabar duka menyelimuti dunia Islam dan tanah air di pertengahan bulan suci tahun ini. Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, serta Wakil Presiden ke-6 RI, Try Sutrisno, tutup usia tepat di bulan Ramadan.
Kepergian tokoh-tokoh besar di bulan yang penuh ampunan ini kembali memicu diskusi hangat di tengah masyarakat, apakah seseorang yang meninggal di bulan Ramadan otomatis dijamin masuk surga?
Makna Pintu Surga Dibuka di Bulan Ramadan
Banyak Muslim berharap bisa meraih husnul khatimah dengan wafat di bulan suci. Harapan ini sering kali disandarkan pada hadis riwayat Abu Hurairah yang menyebutkan bahwa pada bulan Ramadan, pintu surga dibuka selebar-lebarnya.
إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ، فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ، وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ
Artinya: “Apabila telah datang bulan Ramadhan, dibukalah pintu-pintu surga, dikunci pintu-pintu neraka, dan para syetan dibelenggu.” (HR Muslim).
Para ulama memiliki dua pandangan mengenai hadis ini. Sebagian memaknainya secara literal (hakiki) bahwa pintu surga memang terbuka.
Namun, Imam Badruddin Al-‘Aini dalam Kitab ‘Umdatul Qari menjelaskan pendapat lain yang menyebut hal itu sebagai kinayah (kiasan) atas banyaknya amal ketaatan.
أَن المُرَادَ مِنْ فَتْحِ أَبْوَابِ الْجنَّة حَقِيْقَة الْفَتْح، وَذَهَبَ بَعْضُهُمْ إِلَى أَنَّ المُرَادَ بِفَتْح أَبْوَاب الْجَنَّةِ كَثْرَةُ الطَّاعَاتِ فِيْ شَهْرِ رَمَضَان، فَإِنَّهَا مُوْصِلَةٌ إِلَى الْجنَّة، فَكُنِيَ بهَا عَنْ ذَلِك
Artinya: “Bahwa yang dimaksud terbukanya pintu-pintu surga ialah memang terbuka pintunya (makna hakikat). Sebagian ulama lain berpendapat bahwa yang dimaksud adalah banyaknya ketaatan di bulan Ramadhan, karena hal tersebut yang akan mengantarkan ke surga. Dikinayahkan dibukanya pintu surga melalui hal tersebut (banyaknya ketaatan).”
Amal Saleh sebagai “Tiket” Menuju Rahmat Allah
Meski setiap hamba masuk surga karena rahmat Allah, amal saleh merupakan wasilah atau perantara untuk meraih rahmat tersebut. Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menegaskan pentingnya niat dan amal:
أَنَّ الْعَمَلَ عَلَامَةٌ عَلَى وُجُودِ الرَّحْمَةِ الَّتِي تُدْخِلُ الْعَامِلَ الْجَنَّةَ فَاعْمَلُوا وَاقْصِدُوا بِعَمَلِكُمُ الصَّوَابَ أَيِ اتِّبَاعَ السُّنَّةِ مِنَ الْإِخْلَاصِ وَغَيْرِهِ لِيَقْبَلَ عَمَلَكُمْ فَيُنْزِلَ عَلَيْكُمُ الرَّحْمَةَ
Artinya: “Sesungguhnya amal itu menjadi tanda akan adanya rahmat Allah yang memasukkan pelakunya ke dalam surga. Maka beramallah dan benarkanlah niat dari amal kalian yaitu mengikuti sunah dengan ikhlas dan selainnya agar Allah menerima amal kalian kemudian menurunkan kepada kalian rahmat-Nya.”
Apakah Pasti Masuk Surga?
Menanggapi fenomena ini, Dairatul Ifta Yordania melalui fatwa Syekh Nur Ali Salman (Fatwa No. 2322) menjelaskan bahwa waktu kematian bukanlah indikator tunggal seseorang masuk surga.
فَدُخُوْلُ الْجَنَّةِ بِفَضْلِ اللَّهِ، وَسَبَبُهُ الْعَمَلُ الصَّالِحُ، وَرَمَضَانُ مَوْسِمٌ لِلْعَمَلِ الصَّالِحِ. وَلَيْسَ مَعْنَى ذَلِكُ أَنَّ كُلَّ مَنْ مَاتَ فِيْ رَمَضَانَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ، فَدُخُوْلُ الْجَنَّةِ بِسَبَبِ الْعَمَلِ كَمَا ذَكَرْتُ
Artinya: “Masuk surga itu karena anugerah Allah, dan sebabnya karena amal saleh. Bulan Ramadhan menjadi waktu untuk beramal saleh. Tapi bukanlah maknanya siapa saja yang wafat di bulan Ramadhan akan masuk surga. Masuk surga itu karena sebab amal seperti yang telah kusebutkan.”
Meninggal di bulan Ramadan memang menjadi bonus besar karena besarnya rahmat dan ampunan yang turun. Namun, hal terpenting adalah kondisi seseorang saat ajal menjemput. Sebagaimana hadis riwayat Jabir bin Abdullah:
يُبْعَثُ كُلُّ عَبْدٍ عَلَى مَا مَاتَ عَلَيْهِ
Artinya: “Tiap manusia akan dibangkitkan sesuai dengan kondisinya saat meninggal.” (HR Muslim).
Kematian di bulan suci ini tentu membawa harapan akan kemuliaan di sisi Allah. Namun, secara syariat, jaminan surga tetap bersandar pada keimanan dan amal saleh seseorang, bukan sekadar waktu kematiannya.
Tugas kita sebagai umat adalah terus memaksimalkan ibadah, agar saat ajal tiba, baik di bulan Ramadan maupun bulan lainnya, kita sedang dalam kondisi taat (husnul khatimah).
Wallahu a’lam.

