HOLOPIS.COM, JAKARTA – Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov menilai situasi antara Iran dan Amerika Serikat (AS) saat ini berada dalam kondisi yang sangat berbahaya. Penilaian tersebut disampaikan Lavrov dalam wawancara dengan media Russia Today.
“Saat ini, kami tidak menempatkan diri sebagai mediator antara Iran, Israel, dan AS. Dalam kontak kami dengan mereka, kami hanya membahas perkembangan yang terjadi,” ujar Sergei Lavrov, dikutip Holopis.com, Kamis (05/02).
Lavrov menegaskan bahwa Rusia terus memantau perkembangan situasi secara cermat, mengingat posisinya sebagai mitra dekat Iran. Ia menyatakan Moskow siap berkontribusi dalam upaya meredakan ketegangan serta memastikan kepatuhan terhadap kesepakatan yang telah ada.
“Ada terlalu banyak bom waktu yang bisa meledak akibat langkah ceroboh. Pihak Iran dan Israel tahu bahwa kami siap memfasilitasi implementasi kesepakatan apa pun yang mungkin tercapai,” kata Lavrov.
Sementara itu, media berbasis di Amerika Serikat, Axios, sebelumnya melaporkan bahwa perundingan nuklir antara Washington dan Teheran dijadwalkan berlangsung di Oman pada Jumat (06/02).
Pada akhir Januari lalu, Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa sebuah armada besar tengah bergerak menuju Iran. Trump juga menyatakan harapannya agar Teheran bersedia kembali ke meja perundingan dan mencapai kesepakatan yang disebutnya “adil dan setara, termasuk pelucutan penuh senjata nuklir.
Iran sendiri berulang kali menegaskan tidak memiliki niat untuk mengembangkan senjata nuklir. Pemerintah Teheran menyatakan penggunaan teknologi nuklirnya ditujukan semata-mata untuk kepentingan damai.
Upaya diplomasi antara AS dan Iran sebelumnya telah menemui jalan buntu. Lima putaran perundingan nuklir pada 2025 berakhir tanpa hasil, menyusul operasi militer Israel terhadap Iran serta serangan militer AS ke sejumlah fasilitas nuklir Iran.


