HOLOPIS.COM, JAKARTA – Polisi menanggapi upaya komika Pandji Pragiwaksono yang mendatangi Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk tabayun terkait polemik dugaan penistaan agama dalam materi stand up comedy Mens Rea.
Direskrimum Polda Metro Jaya Iman Imanuddin menjelaskan bahwa langkah tabayun tersebut merupakan hak setiap warga negara dan menjadi bagian dari upaya menjaga ketertiban di tengah masyarakat.
“Ya, peluang untuk kita kan selalu keberadaan hukum itu adalah untuk menjaga ketertiban. Ketaatan hukum itu juga untuk ketertiban masyarakat,” kata Dirreskrimum Polda Metro Jaya, Kombes Pol Iman Imanudin kepada awak media di Polda Metro Jaya, Rabu (4/2/2026).
Menurut Iman, setiap persoalan hukum seharusnya disikapi dengan kesadaran bersama untuk tetap menghormati aturan dan nilai yang berlaku di masyarakat, termasuk norma hukum dan etika sosial.
“Kalau semua kita menyadari bahwa kita harus taat dan patuh terhadap hukum dalam bentuk undang-undang, baik itu yang tertulis maupun etik yang ada di tengah-tengah masyarakat, saya kira ketertiban dan keamanan serta kenyamanan masyarakat bisa dilanjutkan,” ujarnya.
Ia menambahkan, kehadiran aparat penegak hukum dalam menangani polemik tersebut bertujuan memastikan proses hukum berjalan adil dan memberikan rasa aman bagi seluruh pihak.
“Di situlah kehadiran negara untuk memastikan bahwa warga negaranya itu merasakan kemanfaatan dari hukum itu sendiri. Mudah-mudahan semua ada jalan terbaik,” tuturnya.
Sebelumnya Iman mengungkapkan bahwa Tim Penyidik Polda Metro Jaya akan memeriksa komika Pandji Pragiwaksono terkait polemik dugaan penistaan agama dalam acara komedi tunggalnya bertajuk Mens Rea pada Jumat (6/2/2026) mendatang.
“Iya, Jumat (6 Februari 2026) pagi,” kata Iman.
Pandji Tabayun ke MUI
Sebelumnya diberitakan, bahwa komika Pandji Pragiwaksono mendatangi Kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat untuk melakukan tabayun terkait materi pertunjukan stand up comedy yang sempat menuai perhatian publik.
Pandji diterima langsung oleh Ketua MUI Bidang Fatwa Prof. KH. Asrorun Ni’am Sholeh pada hari Selasa 3 Februari 2026 kemarin.
Pandji menjelaskan kedatangannya ke MUI dilandasi niat untuk memberikan klarifikasi sekaligus menjelaskan maksud dari pertunjukan yang ia bawakan.
Ia mengakui bahwa beberapa bagian materinya dinilai perlu dielaborasi lebih dalam agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.
“Saya datang dengan niat menjelaskan maksud dari pertunjukan saya, termasuk sejumlah materi yang kelihatannya memang perlu dielaborasi. Alhamdulillah, Pak Kiai menerima dengan sangat baik. Saya banyak mendapat masukan dan ilmu,” ujar Pandji.
Ia menegaskan bahwa sebagai seorang kreator, selalu ada ruang untuk introspeksi dan perbaikan, baik dari sisi karya maupun niat (mens rea) di balik penyampaian materi. Pandji mengaku tidak pernah berniat menciptakan kegaduhan di tengah masyarakat.
“Saya sadar sebagai orang yang berkarya, selalu ada ruang untuk bisa lebih baik lagi, lebih benar lagi. Itu yang diingatkan oleh Pak Kiai, dan saya sangat berterima kasih,” katanya.

