HOLOPIS.COM, JAKARTA – Apa jadinya kalau jaket ojol yang sudah pudar dan minyak goreng bekas (jelantah) disulap jadi barang mewah? Atau cuma modal donasi Rp1 perak, kamu sudah bisa membantu pahlawan kebersihan dapat BPJS?
Itulah secuil keajaiban yang dipamerkan dalam Graduation Day Grab Ventures Velocity (GVV) Batch 8 di Jakarta Selatan, Selasa (13/01). Mengusung tema “Driving a Sustainable Future”, Grab Indonesia baru saja “meluluskan” lima startup tangguh yang punya misi menyelamatkan bumi sambil tetap cari untung.
Berikut adalah profil singkat 5 “Pendekar Hijau” yang berhasil menembus ekosistem digital Grab:
1. Liberty Society
Siapa sangka jaket driver Grab yang sudah tidak terpakai bisa jadi barang estetik? Liberty Society mengolah jaket bekas dan minyak jelantah mitra merchant menjadi merchandise kece yang dijual kembali di Grab Mart. Hasilnya? Emisi karbon terpangkas 208 kg (setara tanam 9 pohon) dan para wanita marginal punya penghasilan tambahan. Eco-friendly tapi tetap fashionable!
2. Jejakin
Lewat fitur “Sustainability as a Service”, Jejakin membuktikan kalau menanam pohon bisa semudah pesan makanan. Kolaborasi mereka dengan Grab For Business berhasil menanam 400 pohon mangrove di Bangka Belitung. Dampaknya? Emisi karbon berkurang 733 kg CO₂ setiap bulannya.
3. Sirsak
Punya uang Rp1 perak? Di tangan Sirsak, uang receh itu jadi bermakna. Lewat kampanye promo-to-donation, mereka berhasil mengumpulkan donasi untuk mengelola 25 ton sampah daur ulang. Hebatnya lagi, program ini memberikan proteksi BPJS Ketenagakerjaan bagi para petugas kebersihan. Buktinya, 20.000 voucher ludes cuma dalam dua hari!
4. Rekosistem
Sering malas setor sampah karena jauh? Rekosistem mengintegrasikan API mereka ke aplikasi Grab. Sekarang, warga bisa setor sampah dengan praktis lewat solusi logistik yang luas. Budaya “Pilah-Kemas-Setor” pun jadi gaya hidup baru yang nggak pake ribet.
5. CASION
Transisi ke motor listrik sering terhambat karena bingung cari tempat ngecas. CASION hadir membangun infrastruktur EV charging yang terjangkau dan mudah diakses. Bersama Grab, mereka memvalidasi lokasi mana saja yang paling butuh “setrum” agar mobilitas masa depan makin hijau.
Neneng Goenadi, bos Grab Indonesia, mengaku bangga karena inovasi ini bukan cuma teori, tapi langsung dipraktikkan di lapangan. Dukungan juga datang dari Superbank dan Genesis Alternative Ventures yang memastikan startup ini punya fondasi bisnis dan modal yang kuat.
Fakta menarik mengenai GVV yaitu sejak lahir tahun 2018, 83% alumni GVV terbukti masih tegak berdiri dan terus berkembang. Angka ini jauh melampaui rata-rata kelangsungan hidup startup global setelah lulus dari program akselerator.
Acara ditutup dengan kerja sama strategis antara Grab dan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) untuk memperkuat ekosistem digital nasional lewat gerakan 1000 startup.


