HOLOPIS.COM, JAKARTA – Sebuah studi terbaru mengungkapkan bahwa saat orgasme, sebagian perempuan dapat mengalami berbagai respons fisik dan emosional yang tidak biasa. Respons tersebut antara lain tertawa, mimisan, menangis, sakit kepala, hingga halusinasi.
Penelitian yang dipublikasikan bulan lalu dalam Journal of Women’s Health ini disebut sebagai studi pertama yang meneliti seberapa sering pengalaman tersebut terjadi. Fenomena ini secara kolektif dikenal sebagai peri-orgasmic phenomena atau fenomena yang terjadi di saat orgasme.
“Meski sebelumnya sudah ada laporan kasus tentang perempuan yang tertawa, menangis, atau mengalami gejala fisik yang tidak biasa saat orgasme, penelitian ini menjadi yang pertama menggambarkan jenis fenomena tersebut dan kapan paling mungkin terjadi,” kata penulis utama studi, Dr. Lauren Streicher, sebagaimana yang dikutip Holopis.com dari The New York Post, Kamis (8/1/2026).
Penelitian tersebut melibatkan sekitar 3.800 perempuan yang menonton video edukasi mengenai fenomena peri-orgasmik dan mengisi survei anonim berisi enam pertanyaan. Dari jumlah tersebut, 86 responden mengaku pernah mengalami fenomena tersebut.
Hasil survei menunjukkan, 61 persen responden melaporkan gejala fisik, sementara 88 persen mengalami respons emosional. Lebih dari setengah responden mengalami lebih dari satu gejala, dan 21 persen mengalami kombinasi reaksi fisik dan emosional sekaligus.
Meski demikian, hanya 2,3 persen dari total partisipan yang melaporkan mengalami fenomena peri-orgasmik. Sebagian besar responden menyatakan pengalaman tersebut terjadi sesekali, namun sekitar 17 persen mengaku mengalaminya secara konsisten setiap kali orgasme.
Penelitian juga menemukan bahwa lebih dari separuh responden hanya mengalami fenomena tersebut saat melakukan aktivitas seksual bersama pasangan. Sementara itu, 9 persen mengalaminya saat masturbasi dan 14 persen saat menggunakan alat bantu getar.
Menurut Streicher, peningkatan kesadaran mengenai fenomena peri-orgasmik penting untuk menormalkan beragam respons seksual perempuan. Ia menegaskan bahwa reaksi seperti tertawa atau menangis saat orgasme bukanlah hal yang harus dikhawatirkan.
Terlepas dari ada atau tidaknya fenomena tersebut, orgasme memiliki peran penting bagi kesehatan perempuan. Orgasme secara rutin diketahui berkontribusi terhadap peningkatan fungsi fisik dan psikologis, termasuk memperbaiki suasana hati dan kesehatan mental.
Penelitian sebelumnya sempat menyebut orgasme perempuan sebagai hal yang sulit dijelaskan secara biologis dan dianggap tidak berpengaruh pada fungsi seksual. Namun, pandangan tersebut kini telah terbantahkan seiring temuan ilmiah yang menunjukkan peran orgasme dalam menunjang kesejahteraan perempuan secara menyeluruh.

