HOLOPIS.COM, JAKARTA – Momen pergantian tahun baru dipersepsikan banyak masyarakat sebagai momen refleksi dengan perayaan. Tapi, dalam pandangan Islam, perayaan tahun baru dinilai mesti menyesuaikan syariat agar tak perilaku yang melanggar nilai keislaman.
Akademisi A Zaeini Misbaahuddin Asyuari dalam artikelnya yang berjudul ‘Rayakan Tahun Baru? Hati-Hati, Ternyata Begini Hukumnya dalam Kajian Islam’ menelaah dari berbagai literatur. Menurut dia, merayakan tahun baru tidak haram secara mutlak.
Dia mengatakan ada literatur, bahwa merayakan momen tahun baru tak ada masalah selama tak diisi dengan kegiatan maksiat. Zaeni menuturkan tradisi merayakan pergantian tahun sudah seperti kebiasaan sosial, bukan ibadah mahdhah. Dengan demikian, hukumnya bergantung pada cara dan isi perayaannya.
Menurut ulasan dalam tulisanya, larangan berlaku saat perayaan tahun baru diiringi tindakan negatif mengarah ke maksiat seperti pesta minuman keras, pergaulan bebas, tawuran, atau hura-hura yang melalaikan kewajiban agama.
Zaeni pun mengutip pandangan Guru Besar Al-Azhar Asy-Syarif serta Mufti Agung Mesir Syekh Athiyyah Shaqr (wafat 2006 M) dalam kompilasi fatwa ulama Al-Azhar.
“Lalu, bagaimanakah hukum memperingati dan merayakannya bagi seorang muslim? Tak diragukan lagi bahwa bersenang-senang dengan keindahan hidup yakni makan, minum dan membersihkan diri merupakan sesuatu yang diperbolehkan selama masih selaras dengan syariat. Tidak mengandung unsur kemaksiatan. Tidak merusak kehormatan, dan bukan berangkat dari akidah yang rusak,” tulis Zaeni dikutip dari NU Online pada Kamis, (1/1/2026).
Zaeini mengutip literasi itu dari kitab Wizarah Al-Auqof Al-Mishriyyah, Fatawa Al-Azhar. Pun, ia menuturkan ada pendapat ulama Al-Azhar dan sejumlah ahli hadis soal ucapan selamat tahun baru sebagai hal yang diperbolehkan.
Dia menjelaskan ucapan ‘selamat tahun baru’ tak bisa dikategorikan sebagai bid’ah tercela. Hal itu karena selama tak diyakini sebagai bagian dari ritual keagamaan tertentu.
Dalam konteks itu, pergantian tahun mestinya dijadikan sebagai sarana muhasabah atau introspeksi diri agar kehidupan ke depan bisa jadi lebih baik dan bermakna.
Tak Terjebak Euforia
Sementara, Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Bidang Keagamaan KH Ahmad Fahrur Rozi alias Gus Fahrur menyampaikan pentingnya malam pergantian tahun sebagai momen kebersamaan secara sederhana dengan menyeratakan nilai ibadah.
Menurut dia, penting umat Muslim merayakan tahun baru bersama keluarga, atau komunitas dengan kegiatan yang bertujuan mendekatkan diri kepada Allah swt.
Dia mencontohkan malam pergantian tahun sebaiknya diisi dengan kegiatan positif misal tafakur dan berdzikir kepada Allah.
“Hindari kegiatan hura-hura yang tidak perlu,” tulis Gus Fahrur dalam artikel Ketua PBNU: Rayakan Malam Tahun Baru 2024 Bersama Keluarga dan Hindari Hura-Hura dikutip dari NU Online.
Gus Fahrur mengingatkan agar umat Islam tak terjebak pada euforia berlebihan yang justru mengikis nilai spiritual. Menurutnya, Islam punya kalender Hijriah sebagai rujukan utama dalam ibadah.


