HOLOPIS.COM, JAKARTA – Setiap tanggal 1 Januari, dunia tidak hanya membuka lembaran baru kalender, tetapi juga diajak berhenti sejenak untuk merenungkan satu hal yang sering terdengar klise, yakni perdamaian.
Itulah yang melatarbelakangi peringatan Hari Perdamaian Sedunia atau World Day of Peace, sebuah hari refleksi global yang berakar kuat dari tradisi Gereja Katolik dan pesan moral universal.
Melansir Nasionaltoday, Hari Perdamaian Sedunia diperingati setiap 1 Januari. Pada awalnya, Hari Perdamaian Sedunia merupakan hari raya Katolik yang bertepatan dengan Solemnity of Mary, the Mother of God.
Namun, seiring berjalannya waktu, makna Hari Perdamaian Sedunia ini meluas, menjadi ajakan lintas iman dan lintas bangsa untuk membangun dunia yang lebih toleran, adil, dan beradab.
Sejarah Hari Perdamaian Sedunia
Sejarah Hari Perdamaian Sedunia dimulai pada tahun 1967, ketika Paus Paulus VI menyampaikan satu kegelisahan yang sangat relevan hingga hari ini, dimana dunia membutuhkan orientasi baru menuju perdamaian dan saling pengertian.
Dari kegelisahan itu, Paus menetapkan 1 Januari sebagai hari suci untuk merayakan, sekaligus menguatkan upaya-upaya yang bertujuan untuk mewujudkan perdamaian dunia.
Gagasan ini tidak lahir dari ruang hampa. Ia terinspirasi dari dua surat ensiklik penting Vatikan, yakni “Pacem in Terris” dan “Populorum Progressio”.
Dalam kedua dokumen tersebut, Gereja Katolik menegaskan bahwa perdamaian sejati bukan sekadar ketiadaan perang, melainkan hasil dari tatanan sosial yang adil dan bermoral.
Empat Pilar Perdamaian Dunia
Menurut pemikiran yang dituangkan dalam Pacem in Terris dan Populorum Progressio, upaya mewujudkan perdamaian harus dibangun di atas empat hubungan utama.
Pertama, hubungan individu dengan sesama manusia. Perdamaian dimulai dari sikap personal, yakni menghormati, memahami, dan tidak meniadakan keberadaan orang lain.
Kedua, hubungan individu dengan negara. Negara dipandang memiliki tanggung jawab moral untuk melindungi martabat warganya tanpa diskriminasi.
Ketiga, hubungan antarnegara. Di sinilah diplomasi, dialog, dan kerja sama internasional diuji, bukan siapa paling kuat, tapi siapa paling beradab.
Keempat, hubungan antara individu dan negara dengan komunitas global. Dunia tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Tantangan global menuntut solidaritas global.


