HOLOPIS.COM, JAKARTA – Saham-saham berkapitalisasi kecil atau small cap mencuri perhatian pelaku pasar sepanjang perdagangan 15–19 Desember 2025. Di tengah pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), sejumlah saham justru melesat tajam dengan kenaikan triple digit.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO) memimpin daftar top gainers pekan ini setelah melesat 141,82 persen ke level Rp1.330 dari posisi Rp550 pada pekan sebelumnya.
Di posisi kedua, PT Dua Putra Utama Makmur Tbk (DPUM) mencatat lonjakan signifikan sebesar 105,56 persen ke Rp222 dari Rp108. Kinerja agresif juga ditunjukkan PT Sunson Textile Manufacturer Tbk (SSTM) yang menguat 81,95 persen ke Rp2.520 dari Rp1.385.
Penguatan berlanjut pada PT Esta Multi Usaha Tbk (ESTA) yang melonjak 64,23 persen ke Rp404 dari Rp246. Sementara itu, PT Pelayaran Nasional Bina Buana Raya Tbk (BBRM) menguat 62,39 persen ke posisi Rp190 dari Rp117.
Tak berhenti di situ, sederet saham lain juga masuk radar top gainers BEI. PT Purisentul Permai Tbk (KDTN) naik 56,45 persen ke Rp970 dari Rp620, disusul PT Logindo Samudramakmur Tbk (LEAD) yang menguat 55,42 persen ke Rp129 dari Rp83. PT Surya Permata Andalan Tbk (NATO) tercatat naik 54,90 persen ke Rp316 dari Rp204.
Saham PT Astra Agro Lestari Tbk (ALII) turut mencatat pertumbuhan solid sebesar 52,56 persen ke Rp1.190 dari posisi Rp780. Adapun PT Nusantara Pelabuhan Handal Tbk (PORT) naik 45,89 persen ke Rp1.510 dari Rp1.035.
Namun, reli saham small cap ini tidak sejalan dengan pergerakan indeks utama. IHSG pada periode yang sama justru turun 0,59 persen ke level 8.609 dari posisi 8.660 pada pekan sebelumnya.
Dari sisi aktivitas perdagangan, pasar juga cenderung melambat. Rata-rata frekuensi transaksi harian turun 12,59 persen menjadi 2,80 juta kali transaksi, dari sebelumnya 3,20 juta kali transaksi.
Rata-rata volume transaksi harian pun menyusut 20,80 persen menjadi 47 miliar saham, dibandingkan 59,35 miliar saham pada pekan lalu.
Data statistik BEI per Sabtu (20/12/2025) ini menunjukkan adanya pergeseran minat investor ke saham-saham lapis bawah yang lebih agresif, meski secara umum pasar masih bergerak hati-hati.

