HOLOPIS.COM, JAKARTA – Setelah berbulan-bulan perang brutal yang menewaskan puluhan ribu warga sipil, Israel akhirnya mulai menarik pasukannya secara bertahap dari Jalur Gaza pada Jumat (10/10/2025). Langkah ini menjadi sinyal kuat menuju berakhirnya konflik panjang dengan kelompok perlawanan Palestina, Hamas.
Dilansir dari Antara, seluruh pasukan Israel akan mundur sepenuhnya dalam waktu 24 jam, sesuai dengan rencana perdamaian yang diusulkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
“Dalam 24 jam ke depan, tentara Israel akan menyelesaikan penarikan dari beberapa wilayah di Jalur Gaza hingga ke garis kuning, sesuai kesepakatan antara Israel dan Hamas,” tulis laporan tersebut.
Pasukan Israel disebutkan akan mundur ke arah timur dari Rafah dan Khan Yunis di Gaza selatan, serta wilayah utara yang berbatasan langsung dengan Israel.
Kesepakatan Gencatan Senjata dan Pertukaran Tawanan
Langkah penarikan pasukan ini merupakan bagian dari tahap pertama kesepakatan gencatan senjata dan pertukaran tawanan yang diumumkan Trump pada Kamis pagi.
Perundingan tersebut digelar secara tidak langsung antara Israel dan Hamas di Sharm el-Sheikh, Mesir, dengan melibatkan delegasi dari Turki, Mesir, dan Qatar, serta pengawasan penuh dari Amerika Serikat.
Kesepakatan ini menjadi harapan baru bagi jutaan warga Gaza yang telah menderita akibat blokade dan serangan udara selama hampir dua tahun terakhir.
Korban Jiwa Capai 67 Ribu Orang
Sejak perang pecah pada Oktober 2023, serangan militer Israel telah menewaskan hampir 67.200 warga Palestina, sebagian besar wanita dan anak-anak.
Selain korban jiwa, ratusan ribu bangunan hancur dan Gaza kini nyaris tidak layak huni, dengan infrastruktur dasar seperti listrik, air bersih, dan layanan kesehatan lumpuh total.
Harapan Baru bagi Perdamaian Timur Tengah
Jika rencana penarikan ini benar-benar terlaksana, maka Gaza akan memasuki babak baru menuju pemulihan dan perdamaian di Timur Tengah bisa perlahan terwujud. Dunia kini menantikan apakah rencana Trump ini mampu menghentikan perang yang telah mencabik kemanusiaan selama hampir dua tahun.

