HOLOPIS.COM, JAKARTA – Seperti sebuah keluarga yang hidup di bawah satu atap, beragam generasi kini harus berbagi ruang dalam satu era informasi digital. Bak tiap anggota keluarga yang memiliki sifat berbeda-beda, masyarakat saat ini terdiri dari berbagai generasi, di mana setiap kepala memiliki cara pandang dan tujuan yang beragam.
Namun, semuanya dituntut untuk saling memahami agar tercipta kehidupan sosial yang harmonis dan produktif. Tantangan untuk saling melengkapi itulah yang kini menjadi pekerjaan rumah terbesar antar generasi, terutama dalam hal memahami misinformasi dan bagaimana setiap generasi meresponsnya.
Tak hanya menjadi persoalan bagi masyarakat yang setiap hari mengonsumsi berita, isu ini juga menjadi ujian bagi para jurnalis yang memikul tanggung jawab untuk menyajikan informasi secara akurat dan berimbang. Tujuannya jelas, agar tidak ada hoaks atau disinformasi yang perlahan meruntuhkan kepercayaan publik dan pilar demokrasi.
Sobat Holopis tentu sering mendengar stigma terhadap generasi yang lebih tua, seperti generasi Boomer dan X, yang dianggap lebih mudah mempercayai berita palsu. Namun, apakah anggapan itu sepenuhnya benar atau justru merupakan bentuk misinformasi yang tidak kalah berbahaya?
Salah satu pertanyaan terpenting dari mengapa misinformasi saat ini sangat rentan terjadi adalah, di mana virus hoaks sangat mudah tersebar?
Media Sosial Menjadi Tempat Favorit Masyarakat untuk Mencari Informasi
Media sosial kini tak bisa dipungkiri telah menjadi pedang bermata dua. Media sosial mampu menjadi alat yang efektif untuk menyebarkan informasi positif, namun juga berpotensi berbahaya jika digunakan tanpa kehati-hatian. Berdasarkan data Katadata Insight Center dan Kominfo pada tahun 2021, sekitar 70 persen masyarakat di Indonesia mengaku paling sering mendapatkan informasi melalui media sosial.

Sementara itu, berita daring yang seharusnya menjadi sumber informasi kredibel hanya dipilih oleh sekitar 20 persen responden. Tanpa regulasi yang jelas serta tanpa pengawasan dari jurnalis profesional maupun lembaga seperti Dewan Pers, tanggung jawab untuk menyaring kebenaran akhirnya jatuh pada masyarakat sebagai penerima informasi.
Pertanyaan yang lebih penting lainnya adalah, seberapa kredibel masyarakat dalam memilah berita yang akan mereka konsumsi sendiri. Di sini lah generasi dan latar pendidikan memiliki peran yang besar. Lalu generasi mana yang paling handal dalam menghindari diri dari misinformasi?
Generasi Z, Si Kritis yang Hobi Menganalisis
Sudah bukan rahasia umum bahwa membahas era digital tak mungkin tanpa menyinggung generasi yang lahir dan tumbuh bersama internet, yaitu Generasi Z. Sejak masa kanak-kanak hingga dewasa, penggunaan gadget bagi mereka sudah seperti generasi sebelumnya belajar berbicara. Dunia digital menjadi ruang paling alami bagi mereka untuk mengekspresikan diri.
Hal inilah yang membuat Generasi Z dikenal sebagai kelompok yang paling kritis. Bagaimana tidak, “guru” mereka dalam memahami dunia tidak hanya berasal dari keluarga atau sekolah, tetapi juga dari berbagai pendapat dan analisis yang beredar luas di ruang maya. Kemampuan ini tentu menjadi bekal penting untuk melindungi diri dari misinformasi.
Merri, seorang wanita berusia 23 tahun yang bekerja di bidang pemasaran, mengaku tidak sulit membedakan mana berita palsu dan mana yang benar di media sosial. Dengan banyaknya arus dan jenis pemberitaan yang kerap memiliki arah berbeda, ia sudah terbiasa memilih informasi mana yang ingin ia ikuti. Bahkan, ia dapat mengenali platform mana yang paling sering memuat misinformasi.
“Menurut aku, buat bedain informasi yang benar dan yang nggak, apalagi di dunia sosmed sekarang, caranya udah banyak banget. Di Facebook biasanya paling banyak, kalau TikTok masih tergantung,” kata Merri kepada Holopis.com, Kamis (9/10).

Meskipun menurut Merry, ia dan teman-teman sebayanya cenderung lebih mudah mengenali mana berita bodong dan mana yang bonafide, ada satu kebiasaan khas Generasi Z yang kerap ia lihat. Kebiasaan itu tidak hanya ia saksikan, tetapi juga kerap ia rasakan. Bahkan, sesekali ia alami sendiri.
“FOMO (fear of missing out). Biasanya kalau teman-teman repost, banyak yang ikut juga. Tapi kalau aku, biasanya aku lihat-lihat dulu informasinya, kredibel atau tidak,” kata Merry.

