Pengamat Intelijen Sebut Istilah ‘Geng Solo’ Hanya Smoke Screen untuk Alihkan Perhatian

0 Shares

JAKARTA – Pengamat Intelijen dan Terorisme Ridlwan Habib menilai bahwa, istilah ‘geng Solo’ yang muncul di muka publik pasca terjadinya aksi demonstrasi beberapa waktu lalu merupakan sebuah gangguan atau pengalihan perhatian (smoke screen), yang sengaja diciptakan atau disebarkan oleh pihak-pihak atau oknum tertentu demi mendapatkan keuntungan yang dituju.

“Saya melihat istilah ‘geng Solo’ ini adalah smoke screen. Ditiupkan oleh pihak-pihak yang akan diuntungkan dengan melempar asapnya ke geng Solo,” kata Ridwan, seperti dikutip Holopis.com dalam kanal YouTube Zulfan Lindan Unpacking Indonesia, pada Minggu (14/9).

Pun demikian, ia mengatakan, isu tersebut tidak bisa dijelaskan lantaran pihak yang menyebutnya tidak berani secara transparan menyatakan siapa sebenarnya kelompok atau anggota yang terlibat.

Bahkan, kata Ridlwan, kemungkinan besar mereka sendiri tidak mengetahui dengan pasti siapa kelompok tersebut. “Padahal identitas geng Solo saja tidak bisa dijelaskan, iya kan? Kenapa mereka tidak berani secara terang-benderang untuk menyebut siapa sih geng Solo? Karena mereka sendiri juga tidak tahu,” ungkapnya.

Ridlwan menuturkan, orang-orang yang mengaitkan istilah ‘geng Solo’ itu hanya mencoba menebak-nebak tanpa adanya kepastian. “Mereka hanya meraba-raba. Orang-orang ini hanya meraba-raba,” terangnya.

Ia menjelaskan, dalam teori intelijen smoke screen itu teknik mengalihkan perhatian lawan dengan menyiapkan dan melempar bom asap agar musuh fokus pada asap tersebut, sehingga pihak penyerang dapat bertindak dengan lebih leluasa dan tanpa terdeteksi.

- Advertisement -

“Saya kira memang dalam teori Intel itu ada yang disebut dengan smoke screen, ya. Smoke screen itu sederhananya kalau kita mau melakukan serangan ke sebuah markas, markas lawan, maka kita menyiapkan bom asap,” jelasnya.

“Bom asap itu kita lempar deng gitu. Lalu kan ada smoke-nya, ada asapnya. Sehingga konsentrasi lawan ke smoke ini. Dengan konsentrasi lawan ke smoke ini, kita bisa leluasa melakukan serangan. Nah, itu yang disebut dengan teknik smoke screen,” tambahnya.

Lebih lanjut, kata dia, isu tersebut kini terus tersebar luas melalui media sosial, sehingga menyebar ke kalangan masyarakat umum. “Dan fatalnya adalah ini tersirkulasi terus di media sosial, bahkan kemudian dibicarakan di masyarakat,” tuturnya.

Terkait hal itu, Ridlwan menuturkan adanya kesan tertentu yang tersirat lantaran kota Solo ini merupakan tempat kediaman Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi).

Oleh karena itu, sejumlah orang mengaitkan kelompok tersebut sebagai pendukung Jokowi. Namun menurutnya, klaim itu dianggap tidak memiliki dasar yang jelas.

“Sehingga ada kesan apa ya memojokkan karena Solo ini adalah tempatnya Pak Jokowi, ada rumah Pak Jokowi di situ. Kemudian orang mengasosiasikan wah ini orang-orangnya Jokowi ya, yang menurut saya itu baseless, itu tidak berdasar,” pungkasnya.

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang.Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
Fitri Handayani
Fitri Handayani
Tim Redaksi :

Berita Lainnya

YANG BARU