JAKARTA – Pegiat isu-isu sosial politik sekaligus produser film Abigail Limuria mengatakan bahwa aksi demonstrasi anarkis yang belakangan ini terjadi merupakan bentuk ekspresi kemarahan masyarakat Indonesia terhadap kebijakan di pemerintahan. Hal ini disampaikannya melalui unggahan video dalam kanal YouTube Deddy Corbuzier, pada Kamis 4 September 2025.
“Kemarahan ini riil, dan yang dijalanan itu warga,” kata Abigail, seperti dikutip Holopis.com seperti dikutip Holopis.com.
Ia mengatakan, meledaknya kemarahan masyarakat saat aksi demonstrasi tersebut dipicu oleh kondisi bangsa yang sedang mengalami gejolak di sektor ekonomi, kemudian pihak pemerintah justru menerapkan kebijakan-kebijakan yang membuat mereka semakin sulit dan memperkeruh keadaan di kalangan masyarakat.
“Meledaknya tentunya karena setelah yang ngedemo DPR karena keadaan masyarakatnya lagi susah, habis itu DPR naikkin tunjangan dan sebagainya,” ujarnya.
Menurutnya, respon yang diberikan oleh pihak pemerintahan dan DPR RI dalam menangani polemik tersebut membuat suasana semakin panas lantaran tidak sesuai dengan yang diharapkan masyarakat luas.
“Dan menurut gua bahkan yang meledak itu bukan tunjangannya, tapi respon,” ungkapnya.
Lantas kata Abigail, cara pemerintah dan DPR RI mempresentasikan dan merespons aspirasi masyarakat sangat tidak simpatik dengan situasi seperti ini. Ia menjelaskan, anggota dewan di DPR RI justru berjoget-joget serta melontarkan cibiran yang tidak sepantasnya dilakukan.
“Nah, makanya menurut gua cara mereka mempresentasikan itu cara mereka merespon ke warga. Respon-responnya yang nir-empati yang arogan, masa joget-joget, masa ngatain rakyat yang mau itu tolol, terus ada yang ngatain rakyat jelata,” tegasnya.
Ia menilai tindakan tersebut sudah di luar batas, apalagi dilakukan secara terang-terangan yang seluruh Indonesia dapat melihat hal tersebut karena terekam oleh kamera dan disebarkan di media sosial.
“Kan itu gila banget ya menurut gua. Itu di depan kamera loh. Kan bisa kebayang behind the scene orang-orang ini yang harusnya menjadi representasi, yang harusnya mewakilkan rakyat menganggap sangat rendah rakyatnya,” terangnya.
Sebagai informasi, belakangan ini aksi demonstrasi sering terjadi di beberapa wilayah Indonesia. Aksi unjuk rasa tersebut dilakukan lantaran masyarakat menolak beberapa kebijakan pemerintah untuk diterapkan. Pada Kamis 28 Agustus 2025, para buruh melakukan aksi unjuk rasa sebab menginginkan undang-undang perburuhan dapat dipisahkan dari Omnibus Law.
Namun tak disangka-sangka, Demo tersebut menjadi ricuh lantaran ada oknum massa yang ikut turun ke lapangan untuk memprovokasi para buruh saat aksi unjuk rasa itu.
Dimana kericuhan itu bermula saat pihak kepolisian menembakkan gas air mata kepada seluruh massa dengan tujuan untuk membubarkan aksi Demonstrasi tersebut. Massa pun mulai berlarian untuk menghindari serangan gas air mata itu.
Tak sampai disitu saja, meski massa sempat terdistraksi karena adanya gas air mata , mereka pun turut membalas serangan water cannon itu dengan menggunakan botol-botol yang dijadikan sebagai bom molotov.
Aksi demonstrasi itu pun membuat kerusakan pada sejumlah halte bus di Jakarta, dimana terdapat 22 halte yang rusak, mulai dari 6 halte yang terbakar dan dijarah, serta 16 halte lainnya yang juga dirusak saat aksi unjuk rasa tersebut. Tidak hanya fasilitas umum saja yang rusak, salah satu pengemudi ojek online (ojol) bernama Affan Kurniawan turut menjadi korban yang dilindas menggunakan mobil taktis (rantis) Brimob saat aparat berusaha membubarkan massa.

