JAKARTA – Aksi demonstrasi di Jakarta kembali memanas setelah sebuah kendaraan taktis (rantis) milik Brimob melindas seorang pengemudi ojek online (ojol) hingga meninggal dunia.
Kejadian tragis itu terjadi pada Kamis (28/8) malam, terekam dalam sejumlah video yang kemudian viral di media sosial.
Dalam rekaman tersebut, terlihat jelas rantis Brimob melaju dengan kecepatan tinggi di tengah kerumunan massa. Naas, seorang pengemudi ojol yang berada di jalur kendaraan tertabrak dan kemudian terlindas.
Bukannya berhenti, rantis itu terus melaju. Spontan massa yang melihat peristiwa itu mengejar dan mengerubungi kendaraan lapis baja tersebut.
Dari ciri fisiknya kendaraan taktis yang digunakan diduga adalah Rantis Rimueng, armada andalan Korps Brimob. Mengutip informasi dari akun resmi Humas Brimob, Rimueng dirancang sebagai kendaraan patroli jarak jauh dengan kemampuan multifungsi.
Tak hanya untuk pengamanan kota dan pengendalian massa, tetapi juga mampu dipakai dalam pertempuran konvensional.
Rantis Rimueng sendiri dipersenjatai dengan mounting gun senapan serbu dan pelontar gas air mata kaliber 38 mm yang bisa menembakkan hingga 15 peluru.
Mesinnya berkapasitas 3.200 cc, mampu melesat hingga 100 km/jam di jalan perkotaan, serta menaklukkan tanjakan ekstrem dengan kemiringan 60 derajat.
Dari sisi pertahanan, kendaraan sepanjang 5,33 meter ini dilapisi full body armor plate yang mampu menahan tembakan peluru bersertifikasi NIJ level 3. Rimueng juga bisa mengangkut 4 personel di dalam kabin, plus 8 pasukan di footstep luar.
Meski memiliki spesifikasi canggih, insiden semalam justru menjadi sorotan tajam publik. Alih-alih melindungi, rantis itu malah menelan korban jiwa dari kalangan masyarakat sipil. Hingga kini, pihak berwenang tengah mendalami kejadian yang menimbulkan duka mendalam tersebut.
Peristiwa ini pun memunculkan pertanyaan besar: Apakah penggunaan kendaraan tempur di tengah demonstrasi sudah sesuai prosedur? Atau justru berisiko membahayakan nyawa warga sipil?


