“Ini bagian dari strategi mainstreaming HAM—mulai dari pengetahuan (ontologis), pemahaman (epistemologis), hingga tindakan nyata (aksiologis),” jelas Thomas.
Ia berharap pendekatan ini bisa membawa perubahan nyata bagi masyarakat adat yang selama ini sering terpinggirkan dari kebijakan negara.
Puncak acara menjadi semakin istimewa ketika Menteri HAM Natalius Pigai secara adat diangkat sebagai “anak adat Manggarai” dalam seremoni “Selek”, sebagai bentuk penghormatan dan harapan agar ia menjadi pejuang keadilan bagi rakyat kecil di seluruh Indonesia.
“Kami terima beliau sebagai anak kami dan sekaligus utus sebagai pejuang HAM dan keadilan. Kami dukung penuh,” ujar Dominikus Tambuk, tokoh adat Gendang Pagal.
Selain agenda ini, Natalius Pigai dijadwalkan melakukan sejumlah kegiatan lain selama kunjungan ke Manggarai Raya, antara lain pemantauan hak dasar warga Pulau Messah, kuliah umum HAM di Unika Santu Paulus Ruteng, pemantauan program makan bergizi gratis, dan pertemuan dengan Pemda Kabupaten Manggarai.

