JAKARTA – Paus Fransiskus tutup usia pada umur 88 tahun, meninggalkan warisan kerendahan hati dan keberanian dalam menabrak tradisi. Salah satu pesan terakhir yang mencolok dari pemimpin Gereja Katolik ini adalah keinginannya untuk dimakamkan di luar Vatikan, sebuah keputusan yang belum pernah terjadi dalam lebih dari satu abad terakhir.
Berbeda dengan para pendahulunya yang umumnya dimakamkan di gua bawah tanah Basilika Santo Petrus, Paus Fransiskus memilih Basilika Santa Maria Maggiore di seberang Sungai Tiber, Roma.
Tempat ini memiliki makna mendalam bagi beliau, bukan hanya sebagai situs suci, tetapi juga sebagai tempat pribadi untuk berdoa selama masa kepausannya. Dalam otobiografinya berjudul Hope, yang dirilis awal tahun ini, beliau menyatakan :

“Ketika saya meninggal dunia, saya tidak akan dimakamkan di Santo Petrus, melainkan di Santa Maria Maggiore. Vatikan adalah rumah bagi pelayanan terakhir saya, bukan keabadian saya.”
Seremoni pemakaman direncanakan berlangsung antara Jumat, 25 April hingga Minggu, 27 April 2025. Vatikan menyebut upacara ini akan tetap dilakukan dengan penghormatan tinggi, meskipun berlangsung secara sederhana sesuai dengan permintaan Paus.
Mengapa Santa Maria Maggiore?
Basilika Santa Maria Maggiore bukan sekadar bangunan bersejarah, ia adalah simbol spiritual dan seni Kristen. Terletak di puncak Bukit Esquiline, basilika ini telah berdiri selama lebih dari 1.600 tahun dan menjadi tempat suci bagi penghormatan kepada Maria.
Di dalamnya terdapat ikon Salus Populi Romani, yang diyakini berasal dari Santo Lukas. Paus Fransiskus rutin mengunjungi ikon ini setiap kali akan dan sesudah menjalani perjalanan apostolik. Ia menyebut tempat ini sebagai “rumah doa” yang paling dekat di hatinya.
Tak hanya itu, basilika ini juga dikenal dengan relikui palungan Bayi Yesus, yang membuatnya dijuluki sebagai “Betlehem dari Barat.” Tempat ini juga menjadi tempat misa malam Natal pertama dan menyimpan jenazah sejumlah tokoh besar gereja seperti Santo Matius, Santo Yerome, dan tujuh Paus lainnya.
Sebelum Paus Fransiskus, tercatat tujuh Paus yang dimakamkan di Basilika Santa Maria Maggiore, termasuk Paus Sixtus V dan Paus Pius V. Namun, sejak abad ke-17, para Paus lebih memilih Basilika Santo Petrus sebagai tempat peristirahatan terakhir.
Dengan keputusan ini, Paus Fransiskus bukan hanya menutup satu bab penting dalam sejarah gereja, tetapi juga membuka narasi baru bahwa kesederhanaan, spiritualitas, dan kedekatan dengan umat bisa menjadi warisan paling abadi.



