JAKARTA – Kartini, salah satu pahlawan nasional Indonesia, tidak hanya dikenal sebagai seorang pejuang emansipasi perempuan, tetapi juga sebagai penulis yang menyuarakan pandangannya melalui surat-surat yang kemudian diterbitkan dalam berbagai buku.
Surat-surat Kartini yang dijadikan buku telah membuka mata tentang majunya pemikiran Kartini, dan bagaimana ide-idenya membuat banyak perempuan bisa mengenyam pendidikan, dan mengubah pola pikir masyarakat Indonesia.
Dalam rangka Hari Kartini, berikut ini Sobat Holopis beberapa buku yang berisi kumpulan surat-surat Kartini, yang memberikan gambaran tentang pemikiran dan perjuangan hidupnya.
1. Habis Gelap Terbitlah Terang
Buku ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1922 dengan judul Door Duisternis Tot Licht dalam bahasa Belanda dan kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang oleh Armijn Pane. Buku ini diterbitkan oleh Balai Pustaka dan menjadi salah satu karya terpenting yang menyajikan surat-surat Kartini kepada teman-temannya. Armijn Pane, seorang sastrawan pelopor Pujangga Baru, mengambil peran sebagai penerjemah dan menyajikan surat-surat tersebut dalam lima bab pembahasan.
Pembagian ini bertujuan untuk menggambarkan tahapan perubahan pemikiran Kartini, yang terlihat jelas melalui perjalanan surat-suratnya.
2. Surat-surat Kartini, Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
Pada tahun 1979, Sulastin Sutrisno menerjemahkan Door Duisternis Tot Licht ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Surat-surat Kartini, Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya. Buku ini berisi terjemahan lengkap dari surat-surat Kartini yang memperlihatkan pandangannya tentang bangsa dan perjuangan perempuan.
Dalam bukunya, Sulastin menegaskan bahwa meskipun Kartini menulis untuk bangsa Jawa, harapan yang sesungguhnya adalah kemajuan seluruh bangsa Indonesia. Buku ini memberikan wawasan lebih dalam mengenai pandangan Kartini tentang nasionalisme dan feminisme, serta perjuangannya untuk emansipasi perempuan.
3. Letters from Kartini, An Indonesian Feminist 1900–1904
Buku ini diterjemahkan oleh Joost Coté dan merupakan versi lain dari surat-surat Kartini yang lebih lengkap. Letters from Kartini, An Indonesian Feminist 1900-1904 tidak hanya mencakup surat-surat yang diterjemahkan dalam Door Duisternis Tot Licht, tetapi juga surat-surat yang ditemukan kemudian. Buku ini memuat 108 surat, termasuk 46 surat yang sebelumnya tidak pernah diterbitkan, yang memberi gambaran lebih mendalam tentang perjuangan Kartini.
Surat-surat ini mencakup berbagai aspek kehidupan, seperti sosial, budaya, dan politik, yang menunjukkan pemikiran kritis Kartini tentang kondisi masyarakat pada masa itu. Surat-surat tersebut menggambarkan pergulatan Kartini untuk mendapatkan hak-hak perempuan yang setara dengan laki-laki, serta perannya sebagai seorang feminis.
4. Panggil Aku Kartini Saja
Buku ini dikompilasi oleh Pramoedya Ananta Toer dan merupakan pengumpulan data dari berbagai sumber yang berkaitan dengan pemikiran dan perjuangan Kartini. Panggil Aku Kartini Saja lebih berfokus pada pemikiran Kartini mengenai emansipasi dan kedudukan perempuan dalam masyarakat. Buku ini juga memberi penekanan pada sisi kemanusiaan Kartini yang lebih mendalam, bukan hanya sebagai tokoh perjuangan, tetapi juga sebagai individu yang menghadapi berbagai tantangan dalam hidupnya.
5. Kartini: Surat-surat kepada Ny RM Abendanon-Mandri dan Suaminya
Buku ini diterbitkan pada tahun 1987 oleh Sulastin Sutrisno dan memberikan perspektif baru tentang Kartini melalui surat-surat yang ditujukan kepada Ny. Rosa Manuela Abendanon-Mandri dan suaminya J.H. Abendanon. Dalam buku ini, Kartini digambarkan sebagai seorang feminis yang memiliki pemikiran jauh lebih maju dibandingkan dengan perempuan-perempuan pada zamannya. Surat-surat ini memperlihatkan keinginan Kartini untuk melakukan perubahan besar dalam kehidupan perempuan Jawa, meskipun ia harus menghadapi berbagai batasan sosial dan budaya.
6. Aku Mau … Feminisme dan Nasionalisme. Surat-surat Kartini kepada Stella Zeehandelaar 1899-1903
Untuk memperingati 100 tahun wafatnya Kartini, sebuah buku yang berjudul Aku Mau … Feminisme dan Nasionalisme diterbitkan. Buku ini mengandung surat-surat Kartini yang ditulis kepada Stella Zeehandelaar antara tahun 1899 dan 1903. Surat-surat tersebut menunjukkan sisi lain dari Kartini, yakni pemikirannya tentang sosial, budaya, agama, dan bahkan korupsi. Aku Mau menjadi moto yang dikenal luas sebagai ungkapan semangat Kartini untuk memperjuangkan kesetaraan hak, serta menunjukkan sikap kritis terhadap ketidakadilan yang terjadi di sekitarnya.
Buku-buku yang berisi surat-surat Kartini tidak hanya menggambarkan perjuangannya dalam memperjuangkan hak-hak perempuan, tetapi juga menunjukkan kedalaman pemikirannya tentang berbagai isu sosial dan kebudayaan.


