JAKARTA – Di tengah meningkatnya minat masyarakat terhadap investasi logam mulia, edukasi tentang menabung emas fisik semakin penting. Banyak masyarakat tergiur membeli emas batangan, tetapi belum memahami cara menyimpan dan mengelolanya dengan benar.
“Emas fisik itu aman sebagai instrumen investasi jangka panjang, tapi tetap ada risikonya kalau tidak tahu cara menyimpan yang benar,” ujar EGS (EOA Gold Store) Manager Cabang Jakarta Selatan, Budhi E Sulistyorini kepada Holopis.com, Sabtu (12/4).
Menurut wanita yang akrab disapa Lily itu, kesalahan paling umum yang dilakukan masyarakat saat membeli emas fisik adalah tidak memperhatikan tempat penyimpanan.
“Banyak yang simpan di rumah tanpa brankas, padahal itu rawan pencurian atau kerusakan karena kelembapan,” jelasnya.
Ia menyarankan agar emas fisik disimpan di tempat yang aman, seperti platform safe deposit box (SDB) yang kini sudah banyak tersedia di perbankan.
Selain penyimpanan, Lily juga menekankan pentingnya membeli emas dari tempat resmi, melalui agent atau member EOA Gold. Sehingga logam mulia yang dibeli dapat terjamin kualitas dan keasliannya.
“Pastikan emasnya bersertifikat. Jangan tergiur harga murah di toko online tanpa reputasi jelas,” tegasnya.
Diketahui saat ini, pemerintah melalui Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) terus mendorong literasi investasi logam mulia, agar masyarakat tidak terjebak pada penipuan berkedok investasi emas.
Lily mengingatkan, emas bukan instrumen untuk cepat kaya. Namun emas tetap menjadi aset lindung nilai (safe heaven) yang relatif aman di tengah gejolak ekonomi global dan pelemahan mata uang yang terjadi seperti sekarang ini.
“Emas itu ibarat payung di tengah hujan ketidakpastian ekonomi. Mungkin tidak langsung menguntungkan, tapi bisa melindungi nilai kekayaan,” pungkas Lily.

