“Teknologi ini dinilai mampu menghemat penggunaan air, mengoptimalkan pemanfaatan pakan, meningkatkan produktivitas, sekaligus mendukung praktik budi daya yang lebih ramah lingkungan,” kata Qodari.
Dengan teknologi tersebut, budi daya ikan diharapkan tetap bisa dilakukan secara produktif meski menggunakan lahan dan sumber daya air yang terbatas.
Hasil Panen Masuk Rantai MBG
Program ini tidak hanya berhenti pada produksi ikan.
Pemerintah juga menyiapkan rantai pasok agar hasil panen bisa terserap pasar. Ikan hasil budi daya nantinya dapat disalurkan melalui koperasi atau lembaga pengelola.
Salurannya cukup beragam, termasuk Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang mendukung program MBG.
Selain itu, ikan juga dapat masuk ke pasar tradisional, industri pengolahan, rumah makan, hingga jaringan ritel.
“Hasil panen nantinya akan dipasarkan melalui koperasi atau lembaga pengelola kepada berbagai saluran, termasuk Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), pasar tradisional, pelaku usaha pengolahan, rumah makan, hingga jaringan ritel,” kata dia.
Artinya, pemerintah ingin membangun ekosistem dari hulu sampai hilir. Pembudi daya tidak hanya didorong menghasilkan ikan, tetapi juga mendapat jalur pemasaran yang lebih jelas.
Bisa Buka Lapangan Kerja
Perluasan budi daya ikan di 4.000 lokasi juga diharapkan memberi dampak ekonomi di tingkat daerah.
Selain meningkatkan produksi ikan nasional, program ini berpotensi membuka lapangan pekerjaan dan menambah pendapatan masyarakat.
Aktivitas budi daya, distribusi, pengolahan hingga pemasaran dapat menciptakan peluang ekonomi baru, terutama di wilayah pedesaan.
Pemerintah berharap pengembangan tersebut pada akhirnya membuat sektor perikanan budi daya semakin kuat sekaligus membantu memenuhi kebutuhan pangan dan gizi masyarakat.
Jika berjalan sesuai target, ribuan lokasi budi daya ikan ini bukan cuma menjadi tempat produksi lele dan nila. Program tersebut diharapkan menjadi bagian dari rantai pangan nasional yang menghubungkan pembudi daya, pasar, hingga kebutuhan program MBG.




