Tak Cuma Energi, Konflik Timur Tengah Ternyata Bisa Berdampak ke Sektor Properti

0 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Konflik Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran kembali memicu kekhawatiran pasar global. Meski konflik tersebut terjadi jauh dari Indonesia, dampaknya dinilai berpotensi merambat ke berbagai sektor ekonomi domestik, termasuk industri properti.

Head of Research Services Colliers Indonesia, Ferry Salanto mengatakan, konflik di Timur Tengah tidak secara langsung menghentikan transaksi rumah atau apartemen di Indonesia. Namun, sektor properti sangat sensitif terhadap stabilitas makroekonomi dan sentimen jangka panjang.

“Karena itu, dampaknya lebih bersifat tidak langsung, melalui beberapa jalur transmisi ekonomi,” ujarnya dalam pernyataan resmi, dikutip Holopis.com, Minggu (8/3/2026).

Menurut Ferry, terdapat empat jalur utama yang perlu dicermati karena berpotensi memengaruhi sektor properti, yakni harga minyak dan inflasi, nilai tukar rupiah, biaya konstruksi dan ekspansi proyek, serta sentimen dan perilaku investor.

Dari sisi harga energi, eskalasi konflik di Timur Tengah berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dunia, terutama jika jalur distribusi energi global terganggu. Bagi Indonesia yang masih bergantung pada impor energi, kondisi ini dapat memicu tekanan inflasi akibat meningkatnya biaya transportasi dan logistik.

Ferry menjelaskan, inflasi yang meningkat dapat mendorong kebijakan moneter lebih ketat atau mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama. Kondisi tersebut akan berdampak langsung pada sektor properti, karena mayoritas pembelian rumah kelas menengah masih bergantung pada fasilitas Kredit Pemilikan Rumah (KPR).

- Advertisement -

“Kenaikan suku bunga akan langsung memengaruhi keterjangkauan cicilan dan daya beli,” katanya.

Selain itu, ketidakpastian global juga berpotensi memicu aliran dana keluar dari negara berkembang menuju aset yang dianggap lebih aman, seperti emas, dolar Amerika Serikat, maupun obligasi. Fenomena capital outflow ini berpotensi melemahkan nilai tukar rupiah.

Pelemahan kurs rupiah akan meningkatkan biaya impor berbagai material konstruksi, seperti elevator, façade system, hingga sistem HVAC (Heating, Ventilation, and Air Conditioning) yang banyak digunakan dalam pembangunan gedung bertingkat.

Menurut Ferry, kondisi ini membuat proyek properti high-rise seperti apartemen dan gedung komersial lebih rentan terhadap fluktuasi nilai tukar dibanding rumah tapak.

“Hal ini berpotensi menekan margin pengembang atau mendorong penyesuaian harga jual,” ujarnya.

Jika pelemahan rupiah terjadi cukup tajam dan permintaan pasar melambat, pengembang biasanya mengambil langkah strategis dengan menunda peluncuran proyek baru. Fokus perusahaan umumnya dialihkan pada penjualan stok yang sudah tersedia serta penyesuaian spesifikasi bangunan untuk menekan biaya konstruksi.

Meski demikian, proyek yang telah memasuki tahap pembangunan biasanya tetap dilanjutkan guna menjaga arus kas perusahaan serta mempertahankan kredibilitas pengembang di mata investor.

Ferry menambahkan, sektor properti sangat dipengaruhi oleh persepsi jangka panjang pelaku pasar. Ketika ketidakpastian global meningkat, pasar cenderung memasuki fase wait-and-see.

“Investor menunda ekspansi, sementara konsumen menunda pembelian,” ujar Ferry.

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
Khoirudin Ainun Najib
Tim Penulis & Editor
Khoirudin Ainun Najib

SELURUH ISI KONTEN BUKAN TANGGUNG JAWAB REDAKSI HOLOPIS.COM

Berita Lainnya

Holopis UMKM
DKI JAKARTA
☀️ 🌙
00:00:00
Memuat Tanggal...
MEMUAT
-
---- H
MEMUAT 00:00
-- : -- : --
Waktu Dhuha --:-- — --:--

YANG BARU