Menyusuri Keunikan Tradisi dan Arsitektur Masjid Agung Sang Cipta Rasa

0 Shares

HOLOPIS.COM, CIREBON — Kota Cirebon kembali menjadi perbincangan para pecinta wisata sejarah dan religi di Indonesia. Destinasi bersejarah Masjid Agung Sang Cipta Rasa terus menyedot perhatian wisatawan berkat keunikan tradisi serta nilai sejarahnya yang megah.

Masjid bersejarah ini berdiri kokoh di dalam kompleks Keraton Kasepuhan, Kelurahan Kasepuhan, Kecamatan Lemahwuntut, Kota Cirebon, Jawa Barat. Kehadirannya menjadi saksi bisu jejak penyebaran agama Islam di tanah Jawa sejak abad ke-15.

Berdasarkan catatan sejarah, tempat ibadah ini dibangun pada tahun 1480 Masehi di bawah prakarsa Sunan Gunung Jati. Proses perancangan serta pembangunannya dipimpin langsung oleh Sunan Kalijaga bersama bantuan masyarakat setempat.

Nama Cipta Rasa sendiri mengandung makna spiritual yang sangat mendalam bagi para pendirinya. Kata cipta berarti rasa menghasilkan atau membangun, sedangkan rasa memiliki arti keyakinan dan keagungan terhadap Sang Pencipta.

Dari segi arsitektur, bangunan masjid mengusung perpaduan gaya Jawa, Hindu, dan Islam yang sangat kental. Bangunan ini tidak menggunakan kubah bundar layaknya masjid modern, melainkan atap limas bersusun yang melambangkan filosofi vernakular Nusantara.

Tiang penyangga utama masjid ini dibuat menggunakan teknik tatal, yaitu himpunan serpihan kayu jati yang diikat hingga menjadi pilar kokoh. Teknik pengolahan kayu kuno tersebut membuktikan tingginya keahlian arsitektur para wali pada masa itu.

Keunikan lain terlihat pada ukuran pintu masuk utama bangunan masjid yang dibuat relatif rendah. Setiap pengunjung yang hendak melangkah ke ruang utama diwajibkan membungkukkan badan sebagai simbol kerendahan hati di hadapan Tuhan.

Masjid Agung Sang Cipta Rasa memiliki sembilan pintu utama pada bagian depan bangunan. Jumlah sembilan pintu tersebut menjadi perlambang hormat atas jasa Wali Songo dalam menyebarkan ajaran Islam.

Daya tarik utama yang paling menyedot perhatian wisatawan religi adalah tradisi unik bernama Azan Pitu. Tradisi ini hanya dapat disaksikan oleh para jemaah setiap kali pelaksanaan Salat Jumat berlangsung.

Dalam ritual Azan Pitu, sebanyak tujuh orang muazin mengumandangkan lafal azan secara bersamaan di depan mihrab. Suara bersahut-sahutan dari ketujuh muazin menciptakan gema spiritual yang sangat menggelegar dan syahdu.

Sejarah mencatat bahwa tradisi Azan Pitu berawal dari upaya penolakan wabah penyakit misterius yang sempat melanda kawasan Cirebon pada masa lalu. Hingga kini, tradisi bersejarah tersebut terus dilestarikan secara turun-temurun tanpa perubahan.

Selain tradisi azan, pengunjung juga kerap mendatangi sumber air kuno yang berada di sekitar area masjid. Sumur Banyu Cis tersebut dipercaya memiliki nilai sejarah tinggi dan menyimpan keberkahan bagi siapa saja yang meminumnya.

Para peziarah kerap memanfaatkan air sumur tersebut untuk membasuh wajah atau membawanya pulang sebagai oleh-oleh spiritual. Pengelola keraton dan pengurus masjid menjaga kebersihan area sumur tersebut agar tetap nyaman bagi wisatawan.

Google News

Jadikan Holopis.com sebagai sumber utama pilihanmu di Google untuk mendapatkan berita terbaru dan informasi aktual.

Tambahkan Sekarang
Dede Suhadi
Ronalds Petrus Gerson
Tim Penulis & Editor
Dede Suhadi, Ronalds Petrus Gerson
0 Shares
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Holopis UMKM
DKI JAKARTA
☀️ 🌙
00:00:00
Memuat Tanggal...
MEMUAT
-
---- H
MEMUAT 00:00
-- : -- : --
Waktu Dhuha --:-- — --:--

YANG BARU