Pabrik tersebut ditargetkan menjadi model hilirisasi sawit berbasis koperasi yang dapat direplikasi di daerah lain.
Dengan nilai investasi sekitar Rp100 miliar, fasilitas tersebut memiliki kapasitas pengolahan hingga 45 ton tandan buah segar (TBS) per jam.
Produk CPO yang dihasilkan saat ini dipasarkan kepada sejumlah mitra industri, salah satunya Wilmar.
Pengembangan pabrik CPO tersebut menjadi salah satu pijakan untuk memperluas keterlibatan koperasi dalam industri turunan kelapa sawit.
Ferry juga mendorong koperasi sawit agar tidak berhenti pada pengolahan TBS menjadi CPO. Koperasi didorong melangkah lebih jauh dengan membangun fasilitas pemurnian minyak goreng atau refinery.
Jika terealisasi, rantai usaha koperasi akan semakin panjang, mulai dari pengelolaan perkebunan, pengolahan TBS menjadi CPO, hingga produksi minyak goreng yang kemudian dipasarkan melalui jaringan koperasi.
Rencana tersebut sekaligus memperkuat arah pengembangan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih sebagai jaringan distribusi produk koperasi. Minyak goreng produksi koperasi nantinya diharapkan dapat masuk ke gerai-gerai koperasi sehingga produk hasil hilirisasi dapat langsung menjangkau konsumen.



