HOLOPIS.COM, JAKARTA – Desa wisata di Indonesia kini tak lagi hanya menawarkan pemandangan indah, tetapi juga inovasi dan cerita yang memukau. Berkat program “Jagoan Pariwisata 2025”, sebuah kolaborasi apik antara Kementerian Pariwisata (Kemenpar) dan tiket.com.
Terdapat empat desa wisata ikonik yaitu Tamansari, Osing Kemiren, Taro, dan Les yang berhasil melahirkan para pelaku UMKM lokal yang tak hanya lihai berbisnis, tetapi juga berkomitmen pada keberlanjutan.
Program ini terbukti bukan sekadar pelatihan namun juga adalah mesin pendorong kreativitas, menghidupkan semangat “gotong-royong” yang ditekankan oleh Wakil Menteri Pariwisata, Ni Luh Puspa. Lebih dari 60 UMKM terlibat, berjuang mendapatkan pengakuan di empat kategori utama.
Para “Jagoan Pariwisata” yang berhasil mencuri perhatian tahun ini adalah mereka yang mampu menyajikan pengalaman unik dan memiliki komitmen tinggi terhadap pengembangan berkelanjutan:
1. Pesona Java Ijen Homestay (Tamansari, Banyuwangi) – Pemenang Best Accommodation
Banyuwangi memang dikenal dengan keindahan Kawah Ijen, namun Pesona Java Ijen Homestay menawarkan lebih dari sekadar tempat tidur. Dengan keramahan khas lokal, homestay ini menjadi basis yang sempurna bagi wisatawan untuk merasakan denyut nadi Desa Tamansari. Kemenangan ini membuktikan bahwa akomodasi terbaik adalah yang mampu memadukan kenyamanan modern dengan sentuhan budaya.
2. Rumah Konservasi Kunang-Kunang [Bring Back The Light] (Taro, Bali) – Pemenang Best Tourist Attraction
Di Desa Taro, Bali, kini ada daya tarik yang benar-benar magis. Rumah Konservasi Kunang-Kunang berhasil meraih penghargaan sebagai atraksi wisata terbaik. Ini adalah contoh nyata bagaimana pariwisata bisa berfungsi sebagai garda terdepan konservasi. Wisatawan diajak tak hanya menikmati, tetapi juga ikut serta dalam upaya mengembalikan cahaya alami alam, menciptakan pengalaman yang mendalam dan edukatif.
3. Kebon Studio (Les, Bali) – Pemenang Best BeTi DeWi
Kategori Beli Kreatif Desa Wisata (BeTi DeWi) dimenangkan oleh Kebon Studio dari Desa Les, Bali. Penghargaan ini diberikan atas produk-produk kreatif yang sarat nilai lokal. Kebon Studio membuktikan bahwa buah tangan atau suvenir dari desa wisata memiliki kualitas dan desain yang mampu bersaing di pasar modern. Ini adalah jawaban atas seruan Wamenpar Ni Luh agar UMKM menggali potensi dan menemukan solusi atas tantangan usaha.
4. Wanter Ethnic Collaboration (Kemiren, Banyuwangi) – Pemenang Best Digital Creative
Desa Osing Kemiren di Banyuwangi tak ketinggalan. Wanter Ethnic Collaboration dinobatkan sebagai Best Digital Creative. Kemenangan ini menunjukkan bahwa kekayaan budaya Osing berhasil diterjemahkan secara efektif dan menarik di ranah digital. Mereka berhasil memanfaatkan mentor dari tiket.com untuk menguasai strategi pemasaran modern, membawa budaya lokal melintasi batas-batas geografis.
Gaery Undarsa, Co-Founder & Chief Marketing Officer tiket.com, menyebut program ini sebagai “gerakan bersama untuk menghidupkan potensi desa wisata Indonesia.” Kemenpar dan tiket.com berharap melalui apresiasi ini, desa wisata dapat menjadi motor penggerak ekonomi kreatif sambil tetap menjaga kekayaan budaya dan lingkungan.
Bagi wisatawan, munculnya para “Jagoan Pariwisata” ini adalah kabar baik. Ini berarti setiap kunjungan tidak hanya memanjakan mata, tetapi juga memberikan dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan secara berkelanjutan.



