HOLOPIS.COM, BALI – Seni digital, desain grafis, dan musik karya anak bangsa kini bukan hanya sekadar konten, tetapi telah resmi menjadi aset finansial yang kuat. Kementerian Ekonomi Kreatif (Ekraf) telah meluncurkan inisiatif terobosannya di Bali Blockchain Summit 2025, secara efektif mentransformasi Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) digital menjadi jaminan fidusia yang bankable, terlindungi oleh kecanggihan teknologi blockchain.
Langkah ini menandai lompatan menuju “Creative Economy 3.0,” di mana karya kreatif tidak lagi rentan terhadap pembajakan dan kekhawatiran hak cipta. Melalui penandatanganan nota kesepahaman dengan Baliola, pintu gerbang bagi para pelaku kreatif di seluruh Indonesia terbuka lebar untuk memanfaatkan aset digital mereka, tidak hanya sebagai kebanggaan, tetapi sebagai modal usaha.
Menteri Ekraf/Kepala Badan Ekraf, Teuku Riefky Harsya, menegaskan bahwa blockchain adalah kunci untuk masa depan sektor ini. “Teknologi ini memperkuat rantai pasok, memberikan transparansi data, dan yang terpenting, membuka akses pembiayaan yang lebih inklusif. HAKI kini dapat di-registrasi, diverifikasi, dan dijadikan jaminan fidusia sesuai PP Nomor 24 Tahun 2022,” ujar Teuku di Denpasar (31/10).
Inti dari kerja sama ini adalah menciptakan sebuah “IP Registry” yang transparan. Direktur Teknologi Digital Baru Kementerian Ekraf, Dandy Yudha Feryawan, menjelaskan bahwa sistem ini secara permanen mencatat kepemilikan dan riwayat aset, membuat masalah pencatatan, kepemilikan, dan pelanggaran hak cipta menjadi kuno.
Karya seni digital, yang dulunya mudah dicuri, kini memiliki sertifikat digital yang tidak bisa dipalsukan. Inisiatif ini tidak hanya fokus di tingkat nasional. Baliola, sebagai mitra kunci, bekerja sama dengan Pemerintah Kota Denpasar untuk menjadikan Bali sebagai etalase kolaborasi digital.
CEO Baliola, IGP Rahman Desyanta, mengungkapkan bahwa mereka sedang membangun Blockchain as a Service (BaaS) dan mempromosikan inisiatif Cyber Trust langsung di tingkat masyarakat. Bahkan, program pariwisata lokal seperti Green Hotel dan Tag Inovasi Denpasar akan diintegrasikan dengan teknologi blockchain yang mengubah pariwisata dan tata kelola kota menjadi lebih transparan dan efisien.
Peresmian acara yang dihadiri Wakil Wali Kota Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa, ini sekaligus menjadi penekanan bahwa Denpasar siap menjadi kota yang tangguh dan transparan secara digital.
Untuk memastikan adopsi teknologi ini berjalan lancar, Ekraf juga gencar melakukan edukasi. Ratusan pelajar dan mahasiswa di Denpasar mengikuti Workshop “Pengenalan Blockchain: Use Case and Basic Demo” yang diselenggarakan bersama komunitas IDNFT, memberikan pemahaman langsung tentang konsep Web3 dan NFT sebagai alat masa depan industri kreatif.
Kolaborasi antara Kementerian Ekraf, Baliola, dan Pemerintah Kota Denpasar ini tidak hanya melindungi kekayaan intelektual bangsa, tetapi juga memposisikan Indonesia di garis depan Ekonomi Kreatif global, di mana ide dan karya sama berharganya dengan emas digital. Masa depan industri kreatif Indonesia kini ada di tangan blockchain.




