JAKARTA, HOLOPIS.COM – Kenapa tandan buah segar (TBS) sawit di Malaysia bisa punya nilai jual tinggi? Jawabannya ternyata bukan semata-mata karena harga minyak sawit mentah (CPO) sedang bagus.
Ada mekanisme yang membuat nilai TBS dihitung lebih terukur.
Kualitas buah, tingkat ekstraksi minyak, harga palm kernel, ongkos pengolahan sampai biaya distribusi ikut menentukan berapa nilai yang akhirnya bisa diterima pekebun.
Hal tersebut terungkap dalam International Oil Palm Smallholders (IOPS) Forum 2026 yang digelar di Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur, beberapa waktu lalu.
Presiden Persatuan Kebangsaan Pekebun-Pekebun Kecil Malaysia (PKPKM) atau National Association of Smallholders Malaysia (NASH), Tuan Haji Adzmi bin Hassan, memaparkan bagaimana sistem penetapan harga TBS diterapkan di Malaysia.
Menurut Adzmi, harga TBS pekebun kecil mengacu pada formula yang digunakan Malaysian Palm Oil Board (MPOB).
Dalam formula itu, nilai buah sawit ditarik dari sejumlah komponen yang saling berkaitan.
Di antaranya adalah harga CPO, pungutan ekspor, ongkos pengangkutan CPO, oil extraction rate (OER), harga palm kernel, kernel extraction rate serta biaya pengolahan di pabrik.
Jadi, semakin baik potensi buah dalam menghasilkan minyak dan produk turunannya, semakin besar pula nilai yang bisa dihitung dari TBS tersebut.
“Penetapan harga TBS harus melihat nilai yang dihasilkan dari buah sawit, terutama melalui kualitas dan tingkat ekstraksi minyak,” ujar Adzmi dalam sesi sharing bersama perwakilan pekebun dari berbagai negara.
Untuk menggambarkan cara kerja formula tersebut, Adzmi memberikan contoh perhitungan berdasarkan sejumlah asumsi harga.
Dalam simulasi itu, harga CPO local delivery berada di angka RM4.000 per ton.
Setelah memperhitungkan export charge RM16 per ton dan biaya transportasi CPO RM80 per ton, nilai tersebut kemudian dikaitkan dengan OER sebesar 18 persen.




