HOLOPIS.COM, JAKARTA — Istilah desil belakangan makin sering terdengar ketika pemerintah membahas penyaluran berbagai program bantuan dan kebijakan sosial. Apalagi setelah Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) digunakan sebagai salah satu rujukan bersama.
Tapi jangan buru-buru menganggap angka desil sebagai gambaran langsung kondisi ekonomi sebuah keluarga.
Desil sebenarnya menunjukkan posisi relatif tingkat kesejahteraan sebuah keluarga dibandingkan keluarga lainnya. Artinya, keluarga yang berada di desil yang sama belum tentu punya pendapatan, aset, atau pengeluaran yang sama.
Hal ini ditegaskan Kepala BPS RI Amalia Adininggar Widyasanti. Menurutnya, angka desil harus dilihat sebagai posisi dalam pemeringkatan, bukan sebagai angka yang berdiri sendiri untuk menggambarkan kondisi ekonomi keluarga.
“Desil menunjukkan posisi relatif suatu keluarga dibandingkan keluarga lainnya berdasarkan berbagai karakteristik sosial ekonomi. Karena itu, angka desil perlu dipahami sebagai gambaran posisi relatif dalam pemeringkatan kesejahteraan, bukan sebagai ukuran tunggal kondisi ekonomi suatu keluarga,” ujar Amalia, ditulis Minggu (23/8).
Apa Arti Desil 1 sampai 10?
Dalam DTSEN, keluarga diperingkat berdasarkan berbagai karakteristik sosial ekonomi. Setelah itu, keluarga dibagi menjadi 10 kelompok atau desil.
Setiap kelompok mencakup sekitar 10 persen keluarga.
Secara sederhana, desil 1 merupakan kelompok dengan tingkat kesejahteraan relatif paling rendah. Sebaliknya, desil 10 berada pada posisi kesejahteraan relatif paling tinggi.
Misalnya, sebuah keluarga masuk desil 3. Artinya, keluarga tersebut berada di kelompok ketiga dari 10 kelompok berdasarkan pemeringkatan kesejahteraan relatif.
Namun, angka tersebut tidak berarti keluarga tersebut memiliki pendapatan tertentu atau otomatis masuk kategori miskin.
Bukan Cuma Dilihat dari Gaji
Salah satu hal yang sering disalahpahami adalah anggapan bahwa desil ditentukan berdasarkan penghasilan.
Padahal, penentuan posisi desil mempertimbangkan berbagai karakteristik sosial ekonomi secara bersamaan.
Beberapa faktor yang diperhitungkan antara lain:
- Kondisi tempat tinggal
- Sumber air minum
- Bahan bakar dan energi untuk memasak
- Kepemilikan aset
- Daya dan konsumsi listrik
- Komposisi keluarga
- Pendidikan
- Pekerjaan
- Kondisi kesehatan
- Kondisi disabilitas
Karena menggunakan banyak indikator, satu kondisi saja tidak otomatis menentukan desil sebuah keluarga.
Contohnya, memiliki kendaraan tidak serta-merta membuat sebuah keluarga masuk desil tertentu. Hal yang sama berlaku untuk pekerjaan, daya listrik, pendidikan maupun kepemilikan aset tertentu.
Jadi, tidak tepat jika posisi desil ditentukan hanya dengan melihat satu indikator.
DTSEN Gunakan Metode PMT
Dalam proses pemeringkatan, DTSEN menggunakan metode statistik Proxy Means Test (PMT).




