Menurut Titiek, kondisi harga yang ditemukan dalam pemantauan tersebut juga masih dinilai baik.
“Dan hasil (pemantauan) kami lihat tadi, stok berasnya lancar, ada yang dari Jawa Barat, Jawa Tengah, dan harganya pun oke baik, tidak tinggi,” ujarnya.
Namun, Titiek menekankan bahwa persoalan perberasan tidak berhenti pada besarnya stok pemerintah.
Menurut dia, kelancaran distribusi menjadi bagian penting agar beras yang tersedia di tingkat produsen maupun gudang Bulog benar-benar sampai ke pasar dan akhirnya diterima konsumen dengan harga terjangkau.
“Masalah beras ini bukan hanya masalah stok, ada ketersediaan stok, tetapi juga bagaimana kita memastikan beras ini didistribusikan dari produsen dan juga Bulog ke pasar itu secara efektif dan efisien,” tutur Titiek.
Dengan stok Bulog yang disebut mencapai 4,8 juta ton, Titiek meminta masyarakat tidak perlu khawatir terhadap potensi kelangkaan beras.
Ia menilai ketersediaan stok yang besar juga menjadi salah satu faktor yang dapat membantu menjaga stabilitas harga beras di pasar.
Pemantauan langsung ke Pasar Induk Cipinang ini sekaligus memperlihatkan bahwa pemerintah tidak hanya melihat persoalan beras dari sisi jumlah stok.
Pergerakan harga di tingkat distributor serta efektivitas distribusi hingga pengecer juga menjadi perhatian.
Dengan tambahan penyaluran SPHP hingga Maret 2027 dan program bantuan pangan pada akhir 2026, pemerintah berharap pasokan tetap terjaga sekaligus menekan tekanan harga beras di tingkat konsumen.



