Kalah Pemilu, Benjamin Netanyahu Malah Tuduh Hasil Suara Israel Dicurangi

0 Shares
Ukuran Teks:
20
Dengarkan:

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu belum menerima kekalahan blok politiknya dalam pemilihan umum yang digelar pada 27 Oktober 2026. Sepekan setelah hasil resmi diumumkan, Netanyahu bersama Partai Likud justru mempersoalkan hasil pemungutan suara dengan menuding adanya dugaan kecurangan yang melibatkan partai-partai Arab dan pihak asing.

Tuduhan tersebut dilontarkan tanpa disertai bukti yang dapat membuktikan adanya manipulasi hasil pemilu. Perselisihan semakin memanas setelah Kepala Badan Keamanan Dalam Negeri Israel atau Shin Bet, David Zini, yang dikenal sebagai pendukung Netanyahu, mendorong penyelidikan terhadap sejumlah pemimpin partai Arab.

Namun, Jaksa Agung Israel Gali Baharav-Miara menolak memberikan persetujuan penyelidikan tanpa adanya bukti yang mendukung tuduhan tersebut.

Gadi Eisenkot, pesaing utama Netanyahu, mengecam langkah Partai Likud dan menilai tindakan tersebut sebagai ancaman terhadap demokrasi Israel.

“Likud dan Netanyahu sedang berusaha melakukan pogrom terhadap demokrasi dan supremasi hukum,” kata Eisenkot, dikutip Holopis.com, Kamis (5/11).

Sehari setelahnya, Netanyahu kembali memperkuat tuduhan mengenai dugaan kecurangan pemilu. Dalam sebuah pernyataan video, ia mengeklaim terdapat indikasi keterlibatan negara asing yang berupaya memengaruhi hasil pemungutan suara.

“Ada kecurigaan serius bahwa negara-negara asing telah terlibat dengan menggunakan uang dalam jumlah sangat besar untuk mencoba memanipulasi hasil pemilu di Negara Israel,” ujar Netanyahu.

Berdasarkan hasil resmi, blok politik Netanyahu mengalami penurunan signifikan dari sebelumnya menguasai 68 kursi menjadi hanya 53 kursi di Knesset, parlemen Israel yang memiliki total 120 anggota.

Sementara itu, kelompok oposisi yang dipimpin Eisenkot berhasil mengamankan 67 kursi. Hampir sepertiga dari jumlah tersebut berasal dari dua partai Arab, yakni Joint List dan Raam, yang secara keseluruhan memperoleh 19 kursi setelah mencatatkan tingkat partisipasi pemilih yang bersejarah.

Kekuatan partai-partai Arab tersebut menjadi faktor penting dalam upaya membentuk pemerintahan baru sekaligus menggantikan Netanyahu. Kondisi inilah yang membuat legitimasi suara mereka menjadi sasaran utama dalam strategi politik Netanyahu setelah pemilu.

Komite Pemilu Bantah Ada Kecurangan Sistematis

Sejak hasil pemungutan suara diumumkan, Netanyahu dan para sekutunya dari kelompok sayap kanan terus menyebarkan tuduhan bahwa kemenangan oposisi terjadi akibat praktik suap, pendanaan asing, dan manipulasi suara oleh partai-partai Arab.

Sehari setelah pemilu, Partai Likud bahkan menyerahkan ratusan kesaksian kepada Komite Pemilu Pusat Israel. Mereka mendesak dilakukannya penyelidikan dan penangkapan terhadap pihak-pihak yang dianggap terlibat.

Pada akhir pekan, Netanyahu juga membagikan video seorang aktivis sayap kanan yang mengeklaim adanya pemalsuan suara dalam skala besar. Aktivis tersebut bahkan menyerukan agar hasil pemilu dibatalkan.

Namun, Komite Pemilu Pusat menolak tuduhan kecurangan secara luas tersebut karena dinilai tidak memiliki dasar bukti. Komite menegaskan tidak ada landasan yang menunjukkan bahwa proses pemungutan suara telah dimanipulasi secara sistematis.

- Advertisement -
Google News

Jadikan Holopis.com sebagai sumber utama pilihanmu di Google untuk mendapatkan berita terbaru dan informasi aktual.

Tambahkan Sekarang
Darin Brenda Iskarina
Tim Penulis & Editor
Darin Brenda Iskarina
0 Shares

💬 Diskusi Pembaca

0 Komentar

Masuk dengan akun Google Anda untuk bergabung dalam diskusi:

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan masukan!