HOLOPIS.COM, JAKARTA – Maroko mencatat sejarah baru setelah Raja Mohammed VI menunjuk Fatima Ezzahra El Mansouri sebagai perdana menteri perempuan pertama di negara tersebut, Selasa (29/9).
Penunjukan itu dilakukan setelah partai yang dipimpin El Mansouri, Authenticity and Modernity Party (PAM), meraih kursi terbanyak dalam pemilihan parlemen pada 23 September lalu. PAM memperoleh 97 dari total 395 kursi di House of Representatives.
Raja Mohammed VI sekaligus meminta El Mansouri membentuk pemerintahan baru. Berdasarkan konstitusi Maroko, raja menunjuk kepala pemerintahan dari partai yang memperoleh jumlah kursi terbanyak dalam pemilihan parlemen.
Meski menjadi partai dengan perolehan kursi terbanyak, PAM belum menguasai mayoritas parlemen. El Mansouri harus melakukan pembicaraan dengan partai lain untuk membentuk koalisi pemerintahan. Mayoritas di House of Representatives membutuhkan sedikitnya 198 kursi.
Dalam pernyataannya setelah ditunjuk, El Mansouri mengatakan keputusan tersebut merupakan momen bersejarah bagi Maroko dan perempuan di negara tersebut.
“Untuk pertama kalinya dalam sejarah negara kita, seorang perempuan mendapat tanggung jawab untuk memimpin pemerintahan. Ini menjadi sumber kebanggaan bukan hanya bagi saya, tetapi juga bagi seluruh perempuan Maroko,” ujar El Mansouri, dikutip Holopis.com, Rabu (30/2).
El Mansouri merupakan seorang pengacara yang sebelumnya menjabat sebagai menteri perumahan dalam pemerintahan sebelumnya. Ia juga pernah menjadi wali kota Marrakesh dan menjadi perempuan pertama yang menduduki jabatan tersebut pada 2009.
PAM didirikan pada 2008 oleh Fouad Ali El Himma, penasihat Raja Mohammed VI. Partai tersebut selama ini mengambil posisi liberal-sentris dengan mengusung agenda modernisasi sosial dan pandangan yang cenderung sekuler.
Dalam pemilu kali ini, PAM memperoleh 97 kursi, disusul National Rally of Independents (RNI) dengan 66 kursi dan Istiqlal dengan 65 kursi. Justice and Development Party (PJD), yang sebelumnya pernah memimpin pemerintahan, memperoleh 54 kursi dan menyatakan akan tetap berada di oposisi.
El Mansouri sebelumnya sempat mengatakan PAM tidak akan kembali berkoalisi dengan RNI setelah kedua partai saling menyalahkan terkait sejumlah persoalan kebijakan, termasuk kenaikan harga pangan. Namun, ia kemudian menyatakan tidak akan menetapkan “garis merah” dalam pembicaraan pembentukan koalisi.
“Kami sudah membuka lembaran baru,” kata El Mansouri.
Pemerintahan baru nantinya menghadapi sejumlah agenda besar, termasuk menyelesaikan persiapan Maroko sebagai salah satu tuan rumah Piala Dunia 2030 bersama Portugal dan Spanyol. Pemerintah juga akan menghadapi persoalan ekonomi dan ketidakpuasan anak muda yang menjadi salah satu isu utama dalam beberapa tahun terakhir.
Sementara itu, tingkat partisipasi pemilih dalam pemilu 23 September berada di sekitar 38 persen, turun dari sekitar 50 persen pada pemilu lima tahun sebelumnya.



