HOLOPIS.COM, JAKARTA – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menunjukkan sikap keras terhadap wacana pengetatan regulasi kecerdasan buatan (AI). Ia menolak seruan sejumlah pemimpin industri teknologi yang meminta pemerintah memperkuat pengawasan terhadap pengembangan AI.
Trump justru menilai kekhawatiran mengenai bahaya AI sebagai upaya untuk menghambat perkembangan teknologi Amerika Serikat. Menurutnya, menjaga keunggulan AS atas China serta mempertahankan keuntungan ekonomi dari industri AI jauh lebih penting dibandingkan menambah aturan baru.
Dalam sejumlah unggahan di media sosialnya pada Senin (14/9), Trump bahkan menyebut adanya “konspirasi sakit” untuk melemahkan industri AI. Ia juga menilai kekhawatiran mengenai teknologi tersebut sebagai sebuah “hoaks”.
“Orang-orang yang mengatakan AI akan menghancurkan dunia dan pusat data buruk bagi lingkungan sekitar Anda adalah orang yang sama yang beberapa waktu lalu mengatakan dunia akan musnah karena ‘perubahan iklim’. Penipuan itu tidak pernah berhasil bagi mereka, dan sekarang mereka beralih ke yang berikutnya,” tulis Trump, dikutip Holopis.com, Selasa (15/9).
Trump juga menegaskan bahwa pemerintah AS sebenarnya telah memiliki kewenangan besar untuk mengawasi perusahaan-perusahaan AI. Ia menilai tidak diperlukan tambahan aturan keselamatan yang berlebihan.
“AI hanya membutuhkan satu-satunya bentuk kendali atau ‘pagar pengaman’, yaitu presiden yang KUAT DAN CERDAS (IQ tinggi!), dan Amerika Serikat memilikinya, bahkan dalam jumlah yang sangat besar!” tulisnya.
Trump juga membela keberadaan pusat data yang menjadi infrastruktur penting bagi perkembangan AI. Menurutnya, pertumbuhan industri tersebut turut memberikan dampak positif terhadap pasar saham dan sektor manufaktur melalui pembangunan pusat-pusat data.
Ia bahkan menyebut AI sebagai “angsa bertelur emas” bagi perekonomian AS.
Donald Trump Telepon Bos Nvidia di Tengah Perdebatan AI
Sikap Trump tersebut muncul setelah sejumlah tokoh industri AI mulai mendorong pengawasan pemerintah yang lebih kuat. Salah satunya CEO Anthropic Dario Amodei yang ikut menyerukan perlunya pengamanan lebih ketat terhadap perkembangan teknologi AI.
Wakil Presiden AS JD Vance justru mempertanyakan alasan di balik dorongan tersebut. Ia memperingatkan bahwa tuntutan regulasi dari perusahaan teknologi dapat menjadi semacam “kuda Troya”, terutama jika aturan baru nantinya justru menguntungkan perusahaan tertentu.
“Ada risiko yang jelas dari AI, ada juga beberapa manfaat dari AI. Saya harus mengatakan, secara pribadi, saya merasa sedikit aneh karena begitu banyak perusahaan teknologi AI terdepan datang ke pemerintah dan memohon agar pemerintah mengatur mereka,” kata Vance.
Meski skeptis terhadap tuntutan regulasi dari kalangan industri, Vance tetap mengakui bahwa AI memiliki risiko yang perlu diperhatikan. Ia berharap pemerintah dan Kongres AS dapat bekerja sama untuk menyusun batasan yang tepat.
“Saya tidak berpikir masyarakat Amerika harus takut terhadap apa pun. Kita harus menyadari bahwa ada risiko, ada sisi negatif dari segala sesuatu, dan itu tentu berlaku untuk AI,” ujarnya.
Di tengah perdebatan tersebut, Trump juga menghubungi CEO Nvidia Jensen Huang melalui sambungan telepon ketika Huang sedang tampil dalam sebuah konferensi teknologi di Los Angeles. Huang kemudian menyalakan pengeras suara agar percakapan tersebut dapat didengar oleh peserta acara.




