HOLOPIS.COM, BELITUNG – Belitung kini tengah berkejaran dengan waktu demi mengubah status “kartu kuning” menjadi “kartu hijau” dari UNESCO sebelum tim asesor global tiba pada awal Agustus mendatang.
Kawasan geopark yang diakui dunia sejak April 2021 ini sedang berada dalam masa krusial setelah sempat menerima evaluasi ketat berupa Yellow Card pada proses revalidasi pertama tahun 2024 lalu.
Destinasi berskala internasional ini mencakup daratan seluas 4.800 kilometer persegi dan lautan seluas 13.000 kilometer persegi dengan sebaran 24 geosite eksotis di Kabupaten Belitung serta Belitung Timur.
Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri Wardhana, mendorong seluruh pemangku kepentingan untuk mengoptimalkan persiapan aspek revalidasi Belitong UNESCO Global Geopark yang dijadwalkan berlangsung pada 3 hingga 7 Agustus 2026.
“Saya berharap pertemuan hari ini memberikan gambaran jelas perkembangan tindak lanjut seluruh rekomendasi UNESCO, sekaligus mengidentifikasi hal yang memerlukan percepatan,” ujar Menpar Widiyanti di Sheraton Belitung, Minggu (5/7/2026).
Demi merebut kembali reputasi hijau, Kementerian Pariwisata memprioritaskan pembenahan tata kelola lembaga, alokasi anggaran, regulasi daerah, kesiapan warga lokal, hingga kekuatan narasi pada setiap destinasi.
Langkah taktis di lapangan pun mulai digeber, mulai dari pemasangan rambu prioritas hingga penyusunan papan informasi dua bahasa yang dirancang khusus menggunakan material kokoh agar tahan terhadap cuaca ekstrem.
Tidak hanya infrastruktur fisik, pembaruan situs web resmi geopark kini langsung diintegrasikan dengan sistem peringatan dini cuaca buruk milik BMKG demi menjamin keselamatan wisatawan yang berkunjung.
Menpar Widiyanti juga menekankan pentingnya teknik penyampaian cerita atau storytelling yang kuat agar kekayaan geologi dan keunikan budaya lokal tidak sekadar menjadi tontonan, melainkan pengalaman berharga.
Kesiapan warga lokal menjadi salah satu kunci unik penentu penilaian, mengingat para asesor UNESCO kerap melakukan wawancara mendadak secara langsung dengan masyarakat di sekitar geosite saat peninjauan.
Oleh sebab itu, tanggapan atas rekomendasi UNESCO ini ditekankan tidak boleh berhenti pada tumpukan dokumen administratif saja, melainkan harus berupa perubahan nyata yang bisa dirasakan langsung di lapangan.
“Seluruh rekomendasi harus dijawab dengan kerja nyata, tata kelola yang kuat, dan koordinasi yang rapi antara pemerintah, pengelola geopark, komunitas, serta pelaku wisata,” tegas Widiyanti.
Gayung bersambut, Bupati Belitung Djoni Alamsyah Hidayat menyatakan kesiapan jajarannya untuk bekerja ekstra keras demi mengembalikan kejayaan status hijau bagi warisan bumi Belitong tersebut.
“Ini adalah pekerjaan rumah kita bersama untuk bekerja keras, mengembalikan status geopark ini menjadi hijau kembali seperti semula,” ungkap Djoni penuh optimisme.
Menutup rangkaian persiapan ini, Menpar Widiyanti langsung turun ke lapangan meninjau kesiapan sarana digital di Bukit Peramun dan mengunjungi pusat informasi Belitong Geopark Information Center.


