JAKARTA, Holopis.com – BRMP Mektan menggandeng raksasa YTO China menjajaki riset, transfer teknologi, dan pengembangan alsintan demi memperkuat industri nasional.
Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Mekanisasi Pertanian (BRMP Mektan) membuka peluang kerja sama strategis dengan YTO Group, produsen alat dan mesin pertanian (alsintan) terbesar asal Tiongkok, guna mempercepat modernisasi mekanisasi pertanian sekaligus memperkuat industri alsintan nasional.
Kerja sama tersebut mulai dijajaki melalui pertemuan yang berlangsung di kantor BRMP Mektan, Tangerang.
Dalam pertemuan itu, YTO Group hadir bersama CV. Palupi Agri Berdikari (CV. PARI) selaku sole distributor traktor YTO di Indonesia.
Pertemuan tidak hanya membahas peluang pemasaran produk, tetapi juga mengarah pada kerja sama penelitian dan pengembangan (joint research and development/joint R&D), pengujian teknologi, hingga transfer teknologi untuk mendukung kemandirian industri alsintan Indonesia.
YTO Group memperkenalkan profil perusahaan sebagai salah satu produsen alsintan terbesar di bawah Sinomach Group.
Berdiri sejak 1955, perusahaan tersebut memiliki fasilitas riset dan pengembangan (R&D), laboratorium pengujian, serta sistem manufaktur modern yang telah menghasilkan berbagai produk mekanisasi pertanian.
Saat ini, YTO memproduksi traktor dengan kapasitas 24 hingga 400 tenaga kuda (HP), mesin panen, berbagai implement pertanian, serta sistem layanan purna jual berbasis digital. Produk-produknya telah dipasarkan ke hampir 120 negara.
Dalam diskusi tersebut, BRMP Mektan menegaskan bahwa Indonesia membutuhkan mitra strategis yang mampu mendukung pengembangan teknologi alsintan, bukan sekadar menjual produk.
BRMP Mektan menilai Indonesia masih menghadapi tantangan besar karena belum memiliki industri mesin traktor (engine) di dalam negeri.
Karena itu, kolaborasi dengan YTO diharapkan mampu menghadirkan transfer teknologi, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, memperkuat fasilitas penelitian, hingga mendorong lahirnya industri perakitan alsintan di Indonesia.
Selain itu, BRMP Mektan juga memberikan sejumlah masukan teknis agar alsintan yang dikembangkan benar-benar sesuai dengan karakteristik pertanian Indonesia.
Beberapa aspek yang menjadi perhatian antara lain bobot traktor, dimensi, kemampuan traksi di lahan sawah, efisiensi bahan bakar, kemudahan pengoperasian, kemampuan bermanuver, ketersediaan suku cadang, hingga keandalan produk.
Menurut BRMP Mektan, keberhasilan alsintan di Indonesia tidak hanya ditentukan oleh pemenuhan spesifikasi pengadaan pemerintah, tetapi juga sejauh mana produk tersebut diterima petani dan mampu bersaing di pasar secara berkelanjutan.
Dalam pembahasan juga disinggung pentingnya pemenuhan regulasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).
BRMP Mektan menilai pembangunan fasilitas perakitan maupun pengembangan industri di Indonesia menjadi langkah strategis apabila YTO ingin memperluas investasinya secara jangka panjang.
Sebagai tindak lanjut, BRMP Mektan mengusulkan agar kerja sama dikembangkan melalui skema Government-to-Government (G-to-G) dengan melibatkan pemerintah Indonesia dan Tiongkok, termasuk dukungan Kedutaan Besar Republik Rakyat Tiongkok di Indonesia.
Selain itu, peluang kolaborasi langsung antara BRMP Mektan dan YTO dalam bidang penelitian, pengujian, serta pengembangan teknologi alsintan juga akan terus didalami.
Dari pertemuan tersebut, kedua belah pihak menghasilkan kesepahaman awal bahwa terdapat peluang besar untuk membangun kerja sama di bidang penelitian, pengembangan, pengujian, transfer teknologi, hingga penguatan industri alat dan mesin pertanian nasional.
Kolaborasi ini diharapkan menjadi salah satu langkah penting dalam mempercepat modernisasi pertanian Indonesia sekaligus meningkatkan daya saing industri alsintan nasional agar mampu naik kelas dan sejajar dengan negara-negara produsen alsintan dunia.


