JAKARTA – Pegiat media sosial Agusto Sulistio menilai Indonesia memilih pendekatan yang realistis dalam menjalankan transisi menuju ekonomi rendah karbon. Menurutnya, upaya menekan emisi gas rumah kaca harus berjalan seiring dengan perlindungan terhadap kesejahteraan masyarakat dan keberlangsungan pembangunan nasional.
Pandangan tersebut disampaikan Agusto dalam keterangan tertulis bertajuk “Jalan Tengah Indonesia Menuju Zero Emissions 2050”, yang menyoroti pernyataan Menteri Lingkungan Hidup M. Jumhur Hidayat saat menghadiri forum internasional transisi energi dan lingkungan di London pada 23 Juni 2026.
Menurut Agusto, sikap pemerintah menunjukkan bahwa Indonesia tetap mendukung agenda global pengurangan emisi karbon, namun tidak mengesampingkan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat.
“Di tengah derasnya tuntutan dunia untuk mempercepat transisi menuju energi bersih, Indonesia kembali menegaskan sikap realistis, menjaga bumi tak boleh abaikan kehidupan manusia,” tulis Agusto, Rabu (1/7/2026).
Ia menjelaskan, pemerintah berkomitmen mendukung berbagai langkah internasional dalam mengatasi perubahan iklim, tetapi proses transisi menuju energi bersih harus mempertimbangkan aspek keadilan sosial, lapangan kerja, serta kesejahteraan masyarakat.
“Pilihan itu bukan hal mudah, di satu sisi bahwa menjaga bumi penting, namun menjaga kehidupan manusia yang bergantung pada bumi juga tidak kalah penting,” ujarnya.

Agusto menguraikan bahwa target global menuju Net Zero Emissions pada 2050 merupakan cita-cita yang baik bagi keberlangsungan bumi. Namun, menurutnya, setiap negara memiliki titik awal pembangunan yang berbeda sehingga tidak dapat dipaksa menempuh jalur yang sama.
Ia menilai negara-negara maju telah lebih dahulu membangun industri, mengembangkan teknologi, dan memperkuat pemanfaatan energi terbarukan. Sementara itu, Indonesia masih menghadapi tantangan memenuhi kebutuhan listrik nasional, memperluas kesempatan kerja, membangun kawasan industri, dan mengurangi angka kemiskinan.
Karena itu, Agusto menilai keputusan pemerintah menargetkan pencapaian Net Zero Emissions sekitar 2060 atau lebih cepat merupakan langkah yang disesuaikan dengan kondisi nasional.
Untuk menggambarkan proses tersebut, ia mengibaratkan Indonesia sebagai kapal tanker berukuran besar yang tengah mengubah arah pelayaran.
“Perubahan besar tidak bisa dilakukan dengan tergesa-gesa. Indonesia kita ibaratkan kapal tanker raksasa yang sedang mengubah arah pelayaran. Nahkoda tidak akan memutar kemudi secara mendadak. Jika dipaksa, kapal bisa kehilangan keseimbangan. Muatan bisa bergeser dan bahkan akan membahayakan seluruh awak kapal,” tulisnya.

