JAKARTA – Bendahara Umum Pengurus Besar Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (PB SEMMI), Achmad Donny, menegaskan organisasi yang dipimpinnya tetap memiliki relevansi strategis dalam mencetak kader bangsa di tengah tantangan global yang semakin kompleks.
Menurutnya, nilai-nilai perjuangan Sarekat Islam harus terus menjadi pijakan dalam mewujudkan Indonesia yang berdikari secara ekonomi dan berdaulat secara politik.
Pandangan tersebut disampaikan Achmad Donny melalui tulisan berjudul Menyalakan Kembali Api Sarekat: Relevansi SEMMI dalam Membangun Indonesia Berdikari dan Berdaulat yang diterima Holopis.com. Di mana dalam tulisan tersebut, Donny pun mengulas sekilas perjalanan historis SEMMI sekaligus tantangan organisasi kader di era modern.
Donny mengatakan, SEMMI lahir dari mata rantai perjuangan panjang Sarekat Islam yang sejak awal tidak hanya bergerak di bidang politik, tetapi juga membangun kesadaran ekonomi, sosial, dan pendidikan masyarakat.
Menurutnya, organisasi mahasiswa tetap memiliki peran penting dalam melahirkan generasi pemimpin yang memiliki integritas, wawasan kebangsaan, serta keberpihakan kepada rakyat.
“Setinggi-tinggi ilmu pengetahuan, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat,” tulis Donny mengutip pesan H.O.S. Tjokroaminoto yang disebutnya sebagai fondasi kepemimpinan berbasis ilmu pengetahuan, nilai keagamaan, dan keberanian.
Dalam tulisannya, Donny mengulas sejarah berdirinya Sarekat Dagang Islam (SDI) pada 1905 yang kemudian berkembang menjadi Sarekat Islam di bawah kepemimpinan H.O.S. Tjokroaminoto. Organisasi tersebut dinilai menjadi salah satu tonggak kebangkitan nasional karena berhasil membangun kesadaran politik dan ekonomi masyarakat pribumi pada masa kolonial.
Semangat itu kemudian diteruskan melalui pendirian Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (SEMMI) pada 2 April 1956 sebagai wadah kaderisasi intelektual Muslim yang mengintegrasikan nilai keislaman, nasionalisme, dan pengabdian kepada masyarakat.
Donny menjelaskan, sejak awal SEMMI tidak hanya diposisikan sebagai organisasi kemahasiswaan di lingkungan kampus, tetapi juga sebagai laboratorium kepemimpinan untuk menyiapkan calon pemimpin bangsa.
Ia juga mengingatkan bahwa kader SEMMI pernah terlibat aktif dalam berbagai momentum penting perjalanan bangsa, termasuk gerakan mahasiswa pada pertengahan 1960-an hingga proses kaderisasi pada masa Orde Baru dan era Reformasi.
Tantangan Baru Indonesia
Lebih lanjut, Donny menilai tantangan yang dihadapi Indonesia saat ini berbeda dengan masa perjuangan kemerdekaan. Jika dahulu bangsa Indonesia menghadapi kolonialisme secara fisik, kini tantangan datang dalam bentuk ketergantungan ekonomi, persaingan teknologi, dominasi modal global, hingga derasnya arus disinformasi di ruang digital.
Karena itu, menurutnya, konsep berdikari yang diwariskan Sarekat Islam tetap relevan untuk menjawab berbagai persoalan bangsa.
Ia menilai kemandirian ekonomi harus diwujudkan melalui penguatan industri nasional, penguasaan teknologi, pemberdayaan UMKM, serta pengelolaan sumber daya strategis yang berpihak kepada kepentingan rakyat.
Di sisi lain, Donny juga menekankan pentingnya menjaga kedaulatan politik dengan memperkuat demokrasi, mencegah praktik politik uang, melawan oligarki, serta menangkal penyebaran informasi yang memecah persatuan bangsa.
Menuju Indonesia Emas 2045
Menjelang satu abad kemerdekaan Indonesia pada 2045, Donny berpandangan bonus demografi hanya akan menjadi keuntungan apabila diiringi lahirnya pemimpin-pemimpin muda yang berintegritas dan memiliki kapasitas intelektual.
Menurutnya, kampus tidak cukup hanya menjadi tempat memperoleh gelar akademik, tetapi juga harus menjadi ruang pembentukan karakter dan kepemimpinan.
Ia menegaskan SEMMI memiliki tanggung jawab untuk terus melahirkan kader yang mampu menjawab tantangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai perjuangan yang diwariskan para pendiri Sarekat Islam.
Donny menilai organisasi mahasiswa harus mampu menghadirkan solusi konkret bagi persoalan bangsa, bukan sekadar menyampaikan kritik.
“Mahasiswa tidak cukup hanya menjadi penyampai kritik. Mereka harus menjadi produsen gagasan. Kritik tanpa solusi hanya akan menjadi gema yang cepat hilang, sedangkan ilmu tanpa keberpihakan akan kehilangan makna sosialnya,” tulisnya.
Menurut Donny, warisan terbesar Sarekat Islam bukan semata organisasi, melainkan tradisi berpikir yang menjadikan ilmu sebagai alat memperjuangkan keadilan, agama sebagai jalan menghadirkan kemanusiaan, dan politik sebagai sarana mewujudkan kesejahteraan rakyat.
Ia berharap nilai-nilai tersebut terus hidup dalam proses kaderisasi SEMMI sehingga organisasi itu mampu menjadi salah satu kekuatan intelektual yang berkontribusi mengantarkan Indonesia menjadi negara yang berdikari, berdaulat, dan bermartabat di tingkat global.
“Pada akhirnya, pertanyaan yang perlu dijawab bukanlah apakah SEMMI masih relevan. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah generasi muda Indonesia masih memiliki keberanian untuk mewarisi semangat yang dahulu diperjuangkan oleh Haji Samanhoedi, H.O.S. Tjokroaminoto, Arudji Kartawinata, dan para pendiri SEMMI: semangat membangun bangsa melalui ilmu, integritas, persaudaraan, serta pengabdian yang tulus kepada rakyat dan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” pungkasnya.

