HOLOPIS.COM, JAKARTA – Ketika para pejabat di Washington merayakan penandatanganan kesepakatan kerangka kerja antara Lebanon dan Israel, Abu Ali Jalal Awada justru memikirkan satu hal yang jauh lebih sederhana, yakni kapan ia bisa pulang ke rumahnya.
Pria yang kini mengungsi di sebuah apartemen sederhana di Lebanon selatan itu mengaku tak terlalu memedulikan pidato-pidato para pemimpin dunia. Baginya, masa depan keluarganya jauh lebih penting dibanding seremoni diplomatik.
“Apakah penderitaan kami benar-benar telah berakhir? Akankah semua pihak mematuhi kesepakatan ini, atau justru akan muncul perselisihan dalam pelaksanaannya?” ujarnya, dikutip Holopis.com, Senin (29/6).
Awada merupakan salah satu dari ribuan warga yang terpaksa meninggalkan rumah mereka akibat konflik di wilayah perbatasan Lebanon. Bagi mereka, kesepakatan yang ditandatangani di Washington pada Jumat (26/6) bukan sekadar dokumen politik, melainkan harapan untuk bisa kembali menjalani kehidupan seperti sediakala.
Meski demikian, banyak warga memilih menahan optimisme. Mereka menilai keberhasilan kesepakatan tersebut baru bisa dibuktikan melalui kondisi di lapangan, bukan hanya lewat penandatanganan dokumen.
Kerusakan di wilayah Lebanon selatan masih sangat parah. Sejumlah kota seperti Kfar Kila, Adaisseh, dan Mays al-Jabal dipenuhi bangunan yang hancur, sementara jalan, sekolah, jaringan listrik, hingga saluran air belum sepenuhnya pulih. Kondisi itu membuat ribuan keluarga belum dapat kembali ke rumah masing-masing.
Bagi Hazem Farhat (60), yang mengungsi dari Dibbine ke Ain Qenia di Distrik Hasbaya, kepulangan menjadi satu-satunya harapan yang kini ia pegang.
“Apa yang kami inginkan sederhana. Kami ingin kembali ke rumah dan tanah kami. Kami berharap kesepakatan ini dapat mewujudkannya dan memulai proses rekonstruksi yang nyata agar kami bisa membangun kembali kehidupan dan menjamin masa depan anak-anak kami,” katanya.
Namun, pengalaman masa lalu membuat sebagian warga enggan terlalu berharap. Mereka mengaku telah berkali-kali mendengar janji perdamaian yang pada akhirnya tidak membawa perubahan berarti.
“Kami sudah berkali-kali mendengar tentang berbagai kesepakatan. Yang penting saat ini adalah melihat perubahan nyata di lapangan, bukan sekadar janji,” ujar pengungsi lainnya, Salwa Hamid.
Kekhawatiran itu kembali muncul setelah dilaporkan terjadi serangan baru pada Sabtu (27/6). Menurut Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA), sebuah drone Israel menyerang persimpangan di Nabatieh al-Fawqa, sementara drone lainnya menjatuhkan granat kejut di dekat Kfar Tebnit, Lebanon selatan.
Selain kehilangan tempat tinggal, banyak warga juga kehilangan mata pencaharian akibat konflik. Salah satunya Jamal Dhib, seorang petani yang kini mengungsi di Lebanon timur dan bekerja di kebun aprikot milik warga yang menampung keluarganya.
“Perang tidak hanya merenggut rumah kami, tetapi juga sumber mata pencaharian kami. Tanah adalah kehidupan kami. Hanya jika tanah itu dipulihkan dan kembali bisa digarap, barulah kesepakatan apa pun akan benar-benar bisa mengubah kenyataan yang kami hadapi. Yang paling kami inginkan adalah kembali ke ladang kami,” tuturnya.
Di sisi lain, ada pula warga yang kehilangan anggota keluarga. Najla Hamdan, yang kini tinggal sementara di Kota Al-Rafid, masih menggenggam foto kedua putranya yang tewas dalam konflik.
“Tidak ada kesepakatan yang dapat menggantikan kehilangan anak-anak saya. Namun, saya berharap kesepakatan ini dapat mencegah keluarga lain mengalami penderitaan yang sama dan memungkinkan warga kembali ke desa mereka dengan aman,” ujarnya.
Pengamat menilai keberhasilan kesepakatan tersebut nantinya akan diukur dari perubahan nyata yang dirasakan masyarakat, bukan dari isi dokumen yang telah ditandatangani.
Dosen universitas Hossam Moussa mengatakan warga kini menantikan langkah konkret, mulai dari kepulangan para pengungsi hingga dimulainya proses rekonstruksi.
“Orang-orang di wilayah selatan tidak lagi hanya melihat pernyataan-pernyataan politik. Mereka ingin melihat keluarga-keluarga yang mengungsi kembali ke rumah, proyek-proyek rekonstruksi mulai berjalan, sektor pertanian pulih, serta sekolah dan pusat layanan kesehatan kembali dibuka. Itulah tolok ukur yang akan mereka gunakan untuk menilai kesepakatan ini,” pungkasnya.

