HOLOPIS.COM, JAKARTA – Kesepakatan kerangka kerja yang ditandatangani dalam putaran terbaru perundingan tingkat duta besar di Washington DC pada Jumat (26/6) kembali menegaskan komitmen untuk mempertahankan gencatan senjata yang rapuh antara Israel dan Lebanon.
Namun, bagi warga yang tinggal di wilayah selatan Lebanon, penandatanganan dokumen tersebut belum cukup untuk menghapus kekhawatiran mereka. Banyak yang kini menunggu implementasi nyata di lapangan, terutama terkait keamanan dan proses rekonstruksi.
Konflik yang berlangsung selama berbulan-bulan telah meninggalkan kerusakan besar di sejumlah wilayah perbatasan. Rumah, sekolah, jalan, jaringan listrik, hingga saluran air mengalami kerusakan berat sehingga ribuan warga belum bisa kembali ke tempat tinggal mereka.
Kawasan seperti Kfar Kila, Adaisseh, dan Mays al-Jabal masih dipenuhi bangunan yang hancur. Infrastruktur yang belum pulih serta terbatasnya layanan publik menjadi hambatan utama bagi keluarga-keluarga yang ingin pulang.
Bagi Hazem Farhat, warga berusia 60 tahun yang mengungsi dari Dibbine ke Ain Qenia di Distrik Hasbaya, yang terpenting saat ini bukanlah isi perjanjian, melainkan kesempatan untuk kembali menjalani kehidupan seperti semula.
“Apa yang kami inginkan sederhana. Kami ingin kembali ke rumah dan tanah kami. Kami berharap kesepakatan ini dapat mewujudkannya dan memulai proses rekonstruksi yang nyata agar kami bisa membangun kembali kehidupan dan menjamin masa depan anak-anak kami,” ujarnya, dikutip Holopis.com, Minggu (28/6).
Meski demikian, tidak semua warga langsung menyambut kesepakatan tersebut dengan optimisme. Banyak yang memilih bersikap hati-hati karena berbagai upaya perdamaian sebelumnya dinilai gagal membawa perubahan.
“Kami sudah berkali-kali mendengar tentang berbagai kesepakatan. Yang penting saat ini adalah melihat perubahan nyata di lapangan, bukan sekadar janji,” kata pengungsi lainnya, Salwa Hamid.
Keraguan itu semakin menguat setelah laporan mengenai serangan baru pada Sabtu (27/6). Menurut Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA), sebuah drone Israel menyerang persimpangan di Nabatieh al-Fawqa, sementara drone lainnya menjatuhkan granat kejut di dekat Kfar Tebnit, Lebanon selatan.
Bagi banyak keluarga, perdamaian bukan hanya soal berhentinya pertempuran, tetapi juga kesempatan untuk memulihkan kehidupan yang hilang.
Seorang petani yang mengungsi dari Lebanon selatan, Jamal Dhib, kini bekerja memanen aprikot di kebun milik warga di Daher al-Ahmar, Lebanon timur, setelah desanya terdampak konflik.
“Perang tidak hanya merenggut rumah kami, tetapi juga sumber mata pencaharian kami. Tanah adalah kehidupan kami. Hanya jika tanah itu dipulihkan dan kembali bisa digarap, barulah kesepakatan apa pun akan benar-benar bisa mengubah kenyataan yang kami hadapi. Yang paling kami inginkan adalah kembali ke ladang kami,” tuturnya.
Sementara itu, Najla Hamdan, seorang ibu yang kehilangan dua putranya dalam konflik, mengatakan tidak ada kesepakatan yang mampu menghapus rasa kehilangan yang dialaminya.
“Tidak ada kesepakatan yang dapat menggantikan kehilangan anak-anak saya. Namun, saya berharap kesepakatan ini dapat mencegah keluarga lain mengalami penderitaan yang sama dan memungkinkan warga kembali ke desa mereka dengan aman,” katanya.
Pengamat juga menilai keberhasilan kesepakatan tersebut nantinya akan diukur dari dampaknya bagi masyarakat.
Dosen universitas Hossam Moussa mengatakan warga tidak lagi hanya memperhatikan pernyataan politik para pemimpin.
“Mereka ingin melihat keluarga-keluarga yang mengungsi kembali ke rumah, proyek-proyek rekonstruksi mulai berjalan, sektor pertanian pulih, serta sekolah dan pusat layanan kesehatan kembali dibuka. Itulah tolok ukur yang akan mereka gunakan untuk menilai kesepakatan ini,” pungkasnya.

