HOLOPIS.COM, KLATEN – Keberhasilan Desa Kranggan, Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten, dalam mengembangkan potensi desa berbasis kolaborasi dan pemberdayaan masyarakat mendapat apresiasi dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah.
Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen bahkan meminta seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemprov Jateng menjadikan Desa Kranggan sebagai contoh dalam pelaksanaan Program Desa Dampingan.
Hal tersebut disampaikan Taj Yasin saat menghadiri Festival Pande Besi dan Opor Bebek di Desa Kranggan, pada Jumat (26/7/2026).
Ia mengatakan perkembangan desa tersebut menjadi salah satu contoh keberhasilan sinergi antara pemerintah, masyarakat, perguruan tinggi, dan badan usaha milik desa (BUMDes).
“Desa Kranggan luar biasa majunya. Ini yang terus kita potret. Kita tadi ajak sebagian besar kepala dinas kita untuk melihat langsung bagaimana desa ini berkembang,” kata Taj Yasin, dikutip Holopis.com.
Menurutnya, keberhasilan Desa Kranggan tidak terlepas dari kemampuan masyarakat dalam mengelola dan mengembangkan potensi lokal. Kolaborasi berbagai pihak dinilai mampu menciptakan program yang memberikan dampak langsung terhadap kesejahteraan warga.
Salah satu inovasi yang mendapat perhatian adalah Posyandu Jiwa Gemas Ketawa (Gerakan Masyarakat Sadar Kesehatan Jiwa). Program tersebut tidak hanya memberikan pendampingan bagi warga dengan gangguan kesehatan jiwa, tetapi juga mendorong mereka untuk kembali produktif melalui berbagai kegiatan pemberdayaan.
Taj Yasin menilai model pelayanan tersebut sejalan dengan rencana Pemprov Jawa Tengah dalam mengembangkan Klinik Disabilitas.
Selain sektor sosial, Desa Kranggan juga berhasil mengembangkan sektor budaya dan ekonomi melalui pendampingan perguruan tinggi. Bersama Universitas Sebelas Maret (UNS), desa tersebut mengembangkan Museum Besalen Koripan yang menjadi museum metalurgi pertama di Indonesia yang dikelola oleh pemerintah desa.
Melihat capaian tersebut, Taj Yasin meminta Biro Kesejahteraan Rakyat Jateng melakukan evaluasi secara berkala terhadap 61 Desa Dampingan OPD di Jawa Tengah. Desa yang masih menghadapi kendala akan diarahkan untuk belajar langsung dari desa yang telah berhasil.
“Yang mengalami kesulitan nanti kita ajak keliling ke desa-desa, supaya mereka punya gambaran bagaimana mengembangkan potensi yang dimiliki,” tegasnya.
Ia menambahkan, program pendampingan desa tidak boleh hanya berorientasi pada pemberian bantuan, tetapi harus mampu membangun kapasitas masyarakat agar lebih mandiri, memiliki jejaring, dan meningkatkan kesejahteraan.
Sementara itu, Wakil Rektor Universitas Sebelas Maret Dodi Aryawan mengatakan program pendampingan yang berlangsung selama Juni hingga November 2025 memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat Desa Kranggan.
Selama masa pendampingan, tercatat ratusan wisatawan mengunjungi Museum Besalen Koripan. Pendapatan museum meningkat hampir sepuluh kali lipat, dari Rp1,5 juta menjadi Rp15,3 juta.
Selain itu, penjualan produk pisau hasil karya para pande besi juga mengalami peningkatan signifikan, yakni sembilan kali lipat dari Rp735 ribu menjadi Rp6,9 juta.
Kepala Desa Kranggan Gunawan Budi Utama berharap perhatian dari Pemprov Jawa Tengah dapat terus menjadi motivasi bagi masyarakat untuk mengembangkan desa.
“Semoga kegiatan ini membawa manfaat dan menjadi motivasi bagi kami untuk terus meningkatkan kemajuan Desa Kranggan, sehingga semakin memberikan kesejahteraan bagi masyarakat,” ujarnya.
Dalam kunjungannya, Taj Yasin juga meninjau peternakan ayam milik BUMDes, Museum Besalen Koripan, serta sejumlah stan pelayanan publik. Layanan yang tersedia meliputi administrasi kependudukan, konsultasi kemasan UMKM, layanan Samsat, perpustakaan desa, hingga fasilitasi sertifikasi halal.
Pada kesempatan tersebut, Pemprov Jawa Tengah turut menyalurkan sejumlah bantuan kepada masyarakat, di antaranya bibit tanaman, kursi roda bagi penyandang disabilitas, serta bantuan satu ton beras untuk keluarga kurang mampu.

