HOLOPIS.COM, JAKARTA – Kesepakatan damai yang mulai terbangun antara Amerika Serikat (AS) dan Iran dinilai membawa harapan baru bagi stabilitas kawasan Timur Tengah. Namun, peluang terciptanya perdamaian yang berkelanjutan masih menghadapi tantangan besar, terutama akibat meningkatnya ketegangan yang melibatkan Israel dan Lebanon.
Pandangan tersebut disampaikan Dewan Pakar Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Bidang Strategi Hubungan Luar Negeri, Darmansjah Djumala.
Menurut Darmansjah, kesediaan Washington dan Teheran untuk kembali mengedepankan jalur diplomasi merupakan perkembangan penting setelah hubungan kedua negara selama bertahun-tahun diwarnai konfrontasi, sanksi ekonomi, hingga ancaman militer.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa jalan menuju perdamaian di Timur Tengah masih jauh dari kata mudah.
“Meskipun AS dan Iran sudah menyetujui kesepakatan damai, prospeknya di Timur Tengah masih diragukan,” kata Darmansjah dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (22/6/2026).
Mantan Duta Besar RI untuk Austria dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) itu menilai penandatanganan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) antara AS dan Iran memiliki nilai strategis karena dapat membantu menurunkan ketegangan yang selama ini menjadi salah satu sumber ketidakstabilan di kawasan.
Selain membuka ruang dialog yang lebih luas, keberhasilan implementasi MoU tersebut juga berpotensi mengembalikan diplomasi dan negosiasi sebagai instrumen utama dalam penyelesaian sengketa internasional.
Darmansjah menilai hubungan yang lebih konstruktif antara Washington dan Teheran dapat memberikan dampak positif terhadap stabilitas politik dan keamanan, tidak hanya di kawasan Teluk tetapi juga di Timur Tengah secara keseluruhan.
Namun optimisme itu, kata dia, kini menghadapi ujian serius. Pasalnya, hanya dua hari setelah kesepakatan damai disetujui, kembali terjadi serangan militer Israel di wilayah Lebanon selatan.
Menurut Darmansjah, Iran memandang tindakan Israel bukan sekadar ancaman terhadap sekutu-sekutunya di kawasan, melainkan juga sebagai upaya mempertahankan politik konfrontasi yang dapat menghambat proses normalisasi hubungan antara AS dan Iran.
Ia memperingatkan bahwa eskalasi konflik di Lebanon Selatan berpotensi memicu reaksi berantai. Iran bisa menghadapi tekanan dari dalam negeri maupun kawasan untuk meningkatkan dukungan terhadap kelompok-kelompok yang berafiliasi dengannya.
Di sisi lain, Amerika Serikat juga berada dalam posisi yang tidak mudah. Sebagai sekutu utama Israel, Washington harus menyeimbangkan komitmennya terhadap proses perdamaian dengan Iran dan dukungan strategis yang selama ini diberikan kepada Israel.
Karena itu, Darmansjah menilai keberhasilan kesepakatan damai AS-Iran akan sangat ditentukan oleh kemampuan kedua negara dalam mengendalikan berbagai sumber ketegangan yang masih berlangsung di kawasan.
Ia juga menekankan pentingnya peran aktif Amerika Serikat untuk mencegah eskalasi konflik yang lebih luas agar proses diplomasi yang sedang berjalan tidak terganggu.
“Perdamaian membutuhkan lingkungan regional yang kondusif, pengendalian eskalasi, dan komitmen semua pihak untuk mengedepankan diplomasi dibandingkan penggunaan kekuatan militer,” kata Darmansjah.

