RI Resmi Swasembada Amonium Nitrat, Impor 25 Tahun Akhirnya Tamat!

6 Shares

BONTANG, Holopis.com – Indonesia resmi swasembada amonium nitrat setelah 25 tahun bergantung impor. Kini pasokan industri tambang makin kuat, mandiri, dan stabil.

Indonesia resmi menorehkan sejarah baru di sektor industri strategis.

Setelah lebih dari dua dekade bergantung pada impor, kebutuhan amonium nitrat nasional kini dinyatakan telah terpenuhi secara mandiri lewat produksi dalam negeri oleh PT Kaltim Nitrate Indonesia (KNI).

Dalam momentum 25 tahun operasinya, KNI mencatat capaian besar dengan produksi lebih dari 3,9 juta metrik ton amonium nitrat serta ekspor lebih dari 670 kiloton ke pasar global.

Indonesia pun kini tak hanya mandiri, tapi juga ikut masuk jajaran eksportir produk tersebut.

Amonium nitrat sendiri merupakan bahan baku utama industri bahan peledak yang banyak digunakan di sektor pertambangan, sehingga ketersediaannya selama ini sangat krusial bagi stabilitas industri nasional.

- Advertisement -

Dalam keterangan resminya, KNI menyebut bahwa sebelum perusahaan berdiri, Indonesia sepenuhnya bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan amonium nitrat.

Kondisi itu disebut menciptakan kerentanan pasokan bagi sektor pertambangan dan industri strategis lainnya.

Namun sejak beroperasi secara komersial pada 2012, KNI perlahan mengubah peta tersebut.

Hingga akhir 2025, fasilitas yang berlokasi di Bontang itu memiliki kapasitas produksi terpasang sebesar 366 kiloton per tahun.

“Selama 25 tahun, KNI menunjukkan apa yang mampu dicapai Indonesia di sektor industri strategis, dengan mengubah ketergantungan terhadap impor menjadi pasokan domestik yang andal,” ujar Direktur Utama KNI, Twedy Nasution.

Ia menegaskan, capaian terbesar bukan hanya dari sisi produksi, melainkan kontribusi sumber daya manusia lokal yang menggerakkan seluruh operasi.

KNI juga menyoroti kuatnya peran tenaga kerja Indonesia dalam operasional perusahaan.

Saat ini, sekitar 85% karyawan berdomisili di Bontang, dengan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) mencapai 94%.

Hal ini menjadikan KNI sebagai salah satu contoh industrialisasi berbasis kapabilitas lokal yang dianggap berhasil menggabungkan teknologi global dengan tenaga kerja domestik.

Selain itu, perusahaan juga mengklaim telah memperkuat rantai pasok nasional melalui pengadaan barang dan jasa lokal serta program pemberdayaan masyarakat di Kalimantan Timur.

KNI berdiri pada 2001 melalui kemitraan strategis antara Indonesia dan Australia, yakni Orica dan Armindo Group.

Kolaborasi ini disebut menjadi fondasi transfer teknologi, standar keselamatan, dan penguatan kapasitas industri dalam negeri.

Managing Director dan CEO Orica, Sanjeev Gandhi, mengatakan bahwa perjalanan KNI menjadi bukti kuatnya kemitraan jangka panjang.

“Selama lebih dari 25 tahun, KNI telah berkontribusi dalam mentransformasi industri sumber daya di Indonesia, dari ketergantungan impor menjadi pasokan domestik yang tangguh,” ujarnya.

Ia menambahkan, perpaduan keahlian global dan kemitraan lokal menjadi kunci keberhasilan operasional KNI hingga saat ini.

Sepanjang sejarah operasionalnya, KNI mencatat berbagai capaian teknis dan ekspansi pasar yang cukup signifikan.

Produksi kumulatif perusahaan telah menembus lebih dari 3,9 juta metrik ton amonium nitrat, sementara total ekspor tercatat lebih dari 670 kiloton ke berbagai pasar internasional.

Pada 2024, fasilitas ini juga mencatat produksi tahunan tertinggi sekitar 347 kiloton, yang menjadi salah satu tonggak peningkatan produktivitas perusahaan.

Dari sisi ekspansi global, KNI melakukan pengiriman internasional besar termasuk 10 kiloton ke Peru serta ekspor lainnya mencapai 6,5 ribu kiloton ke Zambia.

Di sisi keselamatan kerja, perusahaan juga mencatat capaian penting dengan membukukan lebih dari 3.302.565 jam kerja aman tanpa kecelakaan, yang menjadi indikator kuat penerapan standar keselamatan operasional di seluruh lini produksi.

Selain itu, KNI juga memperkuat standar keselamatan dengan sertifikasi internasional seperti ISO 45001, ISO 14001, dan SMK3 Bendera Emas.

Di sisi lingkungan, KNI melaporkan adanya peningkatan kinerja keberlanjutan.

Pada 2023, perusahaan menerapkan teknologi secondary abatement yang diklaim mampu menurunkan emisi sekitar 9,6% atau setara 373 kiloton CO₂-ekuivalen per tahun.

Direktur KNI sekaligus Wakil Direktur PT Armindo Prima, Chrisna Deva, menyebut perusahaan kini berada dalam posisi kuat untuk ekspansi.

“Memasuki fase berikutnya, ambisi KNI adalah tumbuh seiring masa depan industri Indonesia dengan berlandaskan capaian 25 tahun terakhir,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Utama PT Armindo Prima, Winniarlita Irfaie, menilai KNI lahir dari visi kemandirian industri nasional.

“Apakah Indonesia tidak mampu memenuhi kebutuhan amonium nitrat sendiri? Hari ini KNI bukan lagi sekadar gagasan, tetapi bagian penting industri nasional,” katanya.

Sementara itu, Group Executive Orica untuk Asia, Rajkumar Mathiravedu, menyebut KNI sebagai tolok ukur industri di kawasan Asia.

“KNI telah menjadi acuan kapabilitas dan ketahanan industri di Asia,” ujarnya.

Dengan capaian 25 tahun tersebut, KNI menegaskan komitmennya untuk terus mendukung sektor pertambangan dan agenda hilirisasi nasional.

Fokus ke depan mencakup peningkatan kapasitas, efisiensi operasional, serta penguatan standar lingkungan.

Perusahaan juga menegaskan akan terus menjaga ketahanan pasokan amonium nitrat bagi kebutuhan domestik tanpa bergantung pada impor seperti sebelumnya.

Sejarah panjang dari 2001 hingga 2026 ini pun menandai perubahan besar, Indonesia kini bukan lagi sekadar konsumen, tetapi sudah menjadi pemain dalam industri amonium nitrat global.

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang.Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
Gesha Yuliani Nattasya
Muhammad Ibnu Idris
Gesha Yuliani Nattasya, Muhammad Ibnu Idris
Tim Redaksi :

SELURUH ISI KONTEN BUKAN TANGGUNG JAWAB REDAKSI HOLOPIS.COM

Berita Lainnya

DKI JAKARTA
☀️
00:00:00
Memuat Kalender...
MEMUAT... - ---- H
MEMUAT... 00:00
-- : -- : --

YANG BARU