Harga Benih dan Pestisida Bakal Naik Gila-Gilaan, Produksi Pangan Terancam

2 Shares

JAKARTA, Holopis.com – Harga benih dan pestisida bakal naik tajam akibat gejolak global, biaya produksi pangan melonjak dan ketahanan pangan terancam kondisi makin buruk.

Tekanan global yang makin tak terkendali membuat sektor pertanian Indonesia berada di ujung tanduk.

Harga benih dan pestisida diperkirakan bakal melonjak tajam atau “naik gila-gilaan”, seiring gejolak geopolitik dunia yang memicu kenaikan harga minyak dan pelemahan rupiah.

Kondisi ini bukan sekadar kenaikan biasa, tetapi sudah mengarah pada ancaman serius terhadap keberlanjutan produksi pangan nasional.

Beban biaya produksi petani pun diprediksi akan melonjak beruntun dalam waktu dekat.

Dalam Media Gathering bertema “Harga Agroinput dan Beban Produksi Meningkat, Bagaimana Solusi Industri”, Ketua Asosiasi Perbenihan Indonesia (Asbenindo) Ayub Darmanto mengungkapkan bahwa industri benih nasional saat ini berada dalam tekanan berat akibat ketergantungan bahan baku impor.

- Advertisement -

Ia menegaskan, sebagian besar benih hortikultura masih sangat bergantung pada pasokan luar negeri, sehingga sangat rentan terhadap fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar dan euro.

“Kami menjual dalam rupiah, tetapi membeli dalam dolar atau euro. Saat kurs naik, otomatis biaya ikut melonjak,” kata Ayub.

Tak hanya itu, lonjakan harga minyak dunia juga memperparah situasi.

Menurutnya, hampir seluruh komponen produksi ikut terdampak, mulai dari plastik, pupuk non-subsidi, hingga biaya pengemasan benih yang terus meningkat.

Sejumlah komoditas hortikultura seperti kubis, sawi putih, pakcoy hingga brokoli masih banyak didatangkan dari luar negeri.

Ketergantungan ini membuat industri semakin rapuh terhadap gejolak global yang sulit diprediksi.

Ayub juga menyoroti risiko kurs yang tidak stabil dalam transaksi jangka panjang.

Ia menyebut selisih kurs saat penjualan dan pembayaran bisa menimbulkan kerugian besar bagi pelaku usaha.

“Kalau salah ambil keputusan, bisa rugi besar. Bisa saja saat jual kurs Rp16 ribu, tapi saat bayar sudah Rp18 ribu,” ujarnya.

Sementara itu, Dewan Pakar Agroinput Midzon Johannis menilai sektor pestisida menghadapi tekanan yang lebih kompleks.

Sekitar 85 hingga 90 persen bahan aktif pestisida di Indonesia masih bergantung pada impor, terutama dari China.

Ia menjelaskan, hampir seluruh komponen produksi juga berbasis turunan minyak bumi, sehingga sangat sensitif terhadap lonjakan harga energi global.

“Kalau harga minyak naik, otomatis semua ikut naik. Ditambah kurs dolar yang menguat, tekanan jadi berlipat,” kata Midzon.

Lebih jauh, ia mengungkapkan kenaikan biaya produksi sudah terjadi secara signifikan, terutama pada bahan kemasan plastik seperti HDPE dan PET yang bahkan disebut melonjak hingga lebih dari 50 persen, bahkan ada yang menembus di atas 100 persen.

Kondisi ini membuat margin industri semakin tergerus dan memaksa pelaku usaha masuk ke mode bertahan.

“Industri sekarang dalam posisi survival. Kenaikan harga sebisa mungkin ditekan agar tidak menghantam petani terlalu keras,” ujarnya.

Namun, dampaknya tetap sulit dihindari. Jika harga pestisida naik dan petani mengurangi penggunaannya, risiko serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) diperkirakan meningkat dan berpotensi menurunkan produksi pangan nasional.

Situasi ini disebut bisa menciptakan efek domino dimana biaya produksi naik, produksi turun, hingga akhirnya harga pangan ikut terdorong naik di pasar.

Midzon menambahkan, kondisi yang serba menekan ini membutuhkan intervensi pemerintah agar industri agroinput tidak semakin terpuruk.

“Kalau tidak ada dukungan, tekanan ini akan terus berlanjut dan petani yang paling kena dampaknya,” katanya.

Dengan ketidakpastian global yang masih tinggi dan rupiah yang belum stabil, pelaku industri menilai ancaman kenaikan harga benih dan pestisida masih jauh dari kata selesai.

Kondisi ini sekaligus menjadi alarm keras bagi ketahanan pangan nasional yang kian rentan terguncang.

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
Gesha Yuliani Nattasya
Muhammad Ibnu Idris
Gesha Yuliani Nattasya, Muhammad Ibnu Idris
Tim Redaksi :

Berita Lainnya

DKI JAKARTA
☀️
00:00:00
Memuat Kalender...
MEMUAT... - ---- H
MEMUAT... 00:00
-- : -- : --

YANG BARU