JAKARTA – Setelah umat Islam merayakan Hari Raya Iduladha pada 10 Dzulhijjah, terdapat tiga hari istimewa yang dikenal sebagai hari tasyrik. Hari tasyrik berlangsung pada tanggal 11, 12, dan 13 Zulhijah dalam kalender Hijriah.
Jika merujuk pada tahun 2026, di mana tanggal 10 Zulhijah tiba pada hari Rabu tanggal 27 Mei 2026, maka hari tasyrik adalah hari Kamis, Jumat dan Sabtu atau 28, 29, dan 30 Mei 2026.
Dalam tradisi Islam, hari-hari tersebut memiliki kedudukan khusus sebagai momentum memperbanyak zikir, menikmati rezeki dari Allah SWT, serta mempererat kepedulian sosial melalui pembagian daging kurban.
Rasulullah SAW menyebut hari tasyrik sebagai hari makan dan minum serta hari untuk mengingat Allah. Karena itu, umat Islam dianjurkan mengisi hari-hari tersebut dengan memperbanyak ibadah, bersyukur, dan menjaga semangat kebersamaan.
Makna Hari Tasyrik
Secara bahasa, tasyrik berasal dari kata “syarraqa” yang berkaitan dengan aktivitas menjemur daging di bawah sinar matahari. Pada masa dahulu, masyarakat Arab mengawetkan daging kurban dengan cara dijemur agar dapat disimpan lebih lama. Dari tradisi itulah muncul istilah hari tasyrik.
Namun dalam makna yang lebih luas, hari tasyrik bukan sekadar tentang daging kurban. Hari tasyrik merupakan kelanjutan dari semangat pengorbanan dan ketakwaan yang diajarkan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Setelah berkurban, umat Islam diajak merawat nilai keikhlasan, kepedulian sosial, serta rasa syukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT.
Hari yang Diharamkan untuk Berpuasa
Salah satu ketentuan penting pada hari tasyrik adalah larangan berpuasa. Rasulullah SAW melarang umat Islam berpuasa pada tanggal 11, 12, dan 13 Zulhijah karena hari-hari tersebut merupakan waktu menikmati makanan dan rezeki yang telah Allah berikan.
Larangan tersebut menunjukkan bahwa Islam mengajarkan keseimbangan antara ibadah spiritual dan kebahagiaan sosial. Setelah menjalani ibadah kurban dan berbagai rangkaian ibadah Iduladha, umat Islam dianjurkan menikmati hidangan bersama keluarga, tetangga, dan masyarakat sekitar.
Karena itu, hari tasyrik sering menjadi momentum mempererat silaturahmi dan berbagi kebahagiaan, terutama kepada kaum dhuafa yang menerima pembagian daging kurban.
Memperbanyak Zikir dan Takbir
Meski identik dengan suasana makan dan berkumpul, hari tasyrik tetap merupakan hari ibadah. Umat Islam dianjurkan memperbanyak takbir, tahmid, tahlil, dan berbagai bentuk zikir lainnya.
Takbir tasyrik biasanya dikumandangkan setelah salat fardu mulai 9 Zulhijah hingga 13 Zulhijah. Lantunan takbir menjadi pengingat bahwa seluruh nikmat, rezeki, dan kehidupan berasal dari Allah SWT.
Selain itu, hari tasyrik juga menjadi momentum muhasabah atau introspeksi diri. Nilai utama Iduladha bukan terletak pada banyaknya hewan kurban yang disembelih, melainkan sejauh mana ketakwaan dan keikhlasan tumbuh dalam diri manusia.
Momentum Kepedulian Sosial
Iduladha dan hari tasyrik memiliki dimensi sosial yang sangat kuat. Pembagian daging kurban mengajarkan pentingnya berbagi rezeki dan memperhatikan masyarakat yang membutuhkan.
Di berbagai daerah, suasana hari tasyrik sering diwarnai tradisi makan bersama, gotong royong, hingga saling berbagi hidangan antarwarga. Semangat tersebut mencerminkan nilai ukhuwah Islamiyah dan solidaritas sosial yang menjadi inti ajaran Islam.
Pada masa sekarang, semangat hari tasyrik juga relevan untuk memperkuat kepedulian terhadap sesama di tengah berbagai tantangan sosial dan ekonomi. Kurban tidak hanya dimaknai sebagai ritual tahunan, tetapi juga sebagai ajakan untuk lebih peka terhadap penderitaan orang lain.
Menjaga Spirit Iduladha
Hari tasyrik menjadi penutup rangkaian Iduladha sekaligus pengingat bahwa nilai pengorbanan harus terus dijaga dalam kehidupan sehari-hari. Semangat berbagi, keikhlasan, dan kepedulian sosial tidak berhenti setelah hewan kurban disembelih.
Karena itu, umat Islam diharapkan menjadikan hari tasyrik sebagai kesempatan memperkuat hubungan dengan Allah SWT sekaligus mempererat hubungan antarsesama manusia.
Dengan memperbanyak zikir, menjaga silaturahmi, dan berbagi kebahagiaan kepada sesama, hari tasyrik menjadi momentum untuk merawat ketakwaan dan membangun masyarakat yang lebih peduli, harmonis, dan penuh rasa syukur.


