HOLOPIS.COM, JAKARTA — Di tengah upaya memperkuat fondasi ekonomi domestik, Badan Pengelola (BP) BUMN sekaligus Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) mulai secara agresif mengonsolidasikan kekuatannya di sektor keuangan riil.
Langkah konkret perdana ditunjukkan melalui penetapan arah kebijakan baru bagi ekosistem pembiayaan ultra mikro nasional. Melalui rapat koordinasi strategis yang dipimpin langsung oleh Kepala BP BUMN sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, pemerintah resmi mengawal transisi penyesuaian suku bunga program PNM Mekaar menjadi single digit, yakni sebesar 8 persen.
Pertemuan tingkat tinggi yang berlangsung pada Senin (18/05) tersebut mempertemukan jajaran Direksi PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) serta Direksi dan Dewan Komisaris PT Permodalan Nasional Madani (PNM).
Konsolidasi ini menjadi sinyal kuat bahwa Ultra Mikro (UMi) Holding kini diarahkan untuk mengejar efisiensi biaya modal (cost of fund) bagi masyarakat di akar rumput. Langkah penurunan suku bunga ini dinilai bukan sekadar kebijakan populis belaka, melainkan manuver taktis dalam lanskap keuangan berkelanjutan.
Kebijakan ini sekaligus merealisasikan instruksi langsung dari Presiden Prabowo Subianto untuk menyajikan instrumen pembiayaan yang lebih ramah kantong dan inklusif bagi kelompok prasejahtera.
Secara teoritis ekonomi, pemangkasan suku bunga hingga ke level 8 persen bagi segmen ultra mikro berpotensi melonggarkan ruang likuiditas para pelaku usaha perempuan yang selama ini menjadi motor penggerak utama PNM Mekaar.
Kendati demikian, tantangan terbesar dari kebijakan ini berada pada aspek manajemen risiko dan keberlanjutan bisnis (business viability) dari UMi Holding itu sendiri. BP BUMN dan Danantara dituntut untuk menjaga agar penurunan margin bunga bersih (net interest margin) tidak mengganggu kesehatan portofolio keuangan konsolidasian.
Di sisi lain, potensi penurunan margin tersebut diharapkan dapat terkompensasi oleh peningkatan volume penyaluran kredit yang lebih berkualitas, serta efisiensi biaya operasional yang lebih ketat melalui integrasi ekosistem.
Hingga kuartal ini, PNM Mekaar tercatat telah menggandeng lebih dari 16,2 juta nasabah aktif yang seluruhnya merupakan perempuan pelaku usaha ultra mikro. Dengan basis massa yang masif tersebut, program ini telah menjelma menjadi instrumen inklusi keuangan paling agresif di Indonesia.
Melalui penyesuaian suku bunga baru ini, Danantara berharap dapat menciptakan efek pengganda (multiplier effect) yang signifikan terhadap daya beli riil dan ketahanan ekonomi keluarga di tingkat tapak.
Dalam kesempatan tersebut, Dony Oskaria menekankan bahwa transformasi ini harus diletakkan dalam kerangka penguatan kapasitas ekonomi jangka panjang. Keselarasan antara misi sosial (social mission) dan keberlanjutan korporasi (corporate sustainability) harus berjalan beriringan tanpa saling menegasikan.
“Penguatan pembiayaan ultra mikro harus mampu memperluas akses usaha masyarakat sekaligus mendorong kemandirian ekonomi keluarga secara berkelanjutan,” tegas Dony Oskaria.


