Takut Dapat Hewan Sakit? BHQ Bogor Jamin Kurban Sehat dan Bersertifikat untuk Idul Adha 2026

2 Shares

BOGOR, HOLOPIS.COMBHQ Bogor 2026 hadir dengan hewan kurban sehat, bersertifikat, bebas penyakit, dan diawasi ketat dokter hewan jelang Idul Adha.

Menjelang Hari Raya Idul Adha 2026, kekhawatiran masyarakat soal hewan kurban sakit, tidak cukup umur, hingga terjangkit penyakit menular kembali menjadi perhatian.

Apalagi, lalu lintas ternak dari berbagai daerah mulai meningkat tajam beberapa pekan sebelum hari kurban.

Namun masyarakat Kota Bogor kini tak perlu lagi waswas saat membeli hewan kurban.

Bursa Hewan Qurban (BHQ) 2026 yang digelar di kawasan Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Peternakan dan Kesehatan Hewan (BRMP PKH) Bogor memastikan seluruh hewan yang dijual dalam kondisi sehat, aman, bebas penyakit, dan telah mengantongi Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH).

Tak hanya menjadi pusat jual beli ternak, BHQ ke-24 ini bahkan berkembang menjadi destinasi edukasi masyarakat untuk mengenal cara memilih hewan kurban yang sehat dan sesuai syariat Islam.

- Advertisement -

Setiap sore, suasana kawasan BHQ terlihat ramai dipadati pengunjung.

Mulai dari calon pembeli, keluarga, hingga warga yang sekadar datang berjalan santai sambil melihat deretan sapi, kambing, dan domba berukuran jumbo yang memenuhi area bursa.

Udara sejuk khas Kota Bogor membuat lokasi ini terasa berbeda dibanding lapak hewan kurban biasa di pinggir jalan.

Kepala Pusat BRMP PKH, drh. Agus Susanto mengatakan, penyelenggaraan BHQ tahun ini merupakan pelaksanaan ke-24 sejak pertama kali digelar.

Menurutnya, kegiatan tersebut bukan sekadar agenda tahunan menjelang Idul Adha, melainkan bagian dari upaya memberikan jaminan keamanan hewan kurban kepada masyarakat.

“Tujuan kegiatan ini salah satunya menyediakan ternak kurban yang memenuhi kriteria hewan ternak yang aman dan sehat,” ujar Agus saat pembukaan BHQ 2026 di Bogor, Senin (18/5/2026).

Ia menjelaskan, seluruh hewan yang masuk ke area bursa wajib menjalani pemeriksaan kesehatan ketat sebelum diperbolehkan dijual kepada masyarakat.

Pemeriksaan dilakukan oleh tim dokter hewan dari BRMP PKH, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bogor, serta tenaga medis dari Sekolah Vokasi IPB University.

Pengecekan meliputi kondisi fisik ternak, kesehatan mulut, suhu tubuh, kelengkapan dokumen, hingga memastikan hewan bebas dari penyakit menular berbahaya.

“Kami ingin masyarakat memperoleh jaminan bahwa hewan kurban yang diperjualbelikan dalam kondisi sehat dan layak untuk kurban,” kata Agus.

Tak hanya itu, pihak BRMP PKH juga menyiapkan area karantina khusus untuk hewan yang terindikasi sakit agar tidak menular ke ternak lainnya.

Agus mengungkapkan, tim dokter sempat menemukan kasus ORF atau luka di bagian mulut pada kambing dan domba.

Meski penyakit tersebut tidak mematikan, daya penularannya cukup tinggi sehingga hewan yang terindikasi langsung dipisahkan dari kandang utama.

“Dokter hewan langsung membuat area karantina. Penyakit seperti ini memang bisa sembuh, tetapi daya tularnya tinggi sehingga harus segera ditangani,” jelasnya.

Selain menjamin kesehatan ternak, BHQ 2026 juga menghadirkan konsep perdagangan hewan kurban yang lebih modern dan transparan.

Salah satu fasilitas yang paling menarik perhatian pengunjung adalah adanya timbangan digital untuk mengecek bobot hewan secara langsung.

Calon pembeli kini bisa mengetahui berat pasti sapi maupun kambing yang akan dibeli sebelum melakukan transaksi.

Sistem ini dinilai jauh lebih transparan dibanding praktik jual beli hewan kurban di banyak tempat yang masih menggunakan sistem perkiraan ukuran tubuh atau jogrokan.

“Kita ingin ke depan perdagangan ternak menggunakan basis bobot. Jadi peternak yang serius membesarkan ternaknya tidak dirugikan,” ujar Agus.

Menurutnya, sistem timbang akan membantu menciptakan transparansi harga sehingga masyarakat mengetahui nilai hewan kurban secara lebih jelas.

Selain itu, peternak juga mendapat keuntungan karena harga jual lebih sesuai dengan kualitas dan bobot ternak yang dipelihara.

Tak heran jika konsep modern yang diterapkan BHQ mulai menarik perhatian masyarakat.

Agus mengaku, kawasan bursa kini berkembang menjadi salah satu destinasi musiman warga Kota Bogor menjelang Idul Adha.

“Alhamdulillah sekarang menjadi destinasi. Banyak pejalan kaki maupun tamu yang datang melihat. Ini memberikan pendidikan yang baik bagi anak-anak maupun orang tua,” katanya.

Tahun ini, BHQ 2026 menghadirkan total 238 ekor hewan kurban yang terdiri dari 58 sapi dan 180 kambing serta domba.

Hewan-hewan tersebut berasal dari berbagai daerah di Jawa Barat hingga Sumatera Selatan.

Jumlah tersebut meningkat sekitar 64 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Menurut Agus, peningkatan jumlah ternak menunjukkan antusiasme masyarakat dan peternak terhadap Bursa Hewan Qurban terus bertambah dari tahun ke tahun.

Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Bogor, Dody Ahdiat mengatakan kebutuhan hewan kurban di Kota Bogor terus meningkat setiap tahunnya.

Pada Idul Adha tahun lalu, kebutuhan hewan kurban di Kota Bogor mencapai sekitar 15.800 ekor sapi, kerbau, kambing, dan domba.

Sementara populasi ternak lokal yang dimiliki Kota Bogor hanya sekitar 4 ribu ekor.

Artinya, sebagian besar kebutuhan hewan kurban masih dipasok dari luar daerah.

“Pasti kurang untuk memenuhi kebutuhan umat Islam di Kota Bogor,” kata Dody.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat pengawasan lalu lintas hewan menjadi sangat penting guna mencegah masuknya ternak yang terjangkit penyakit menular.

Karena itu, Pemerintah Kota Bogor berencana membuat checkpoint pemeriksaan hewan di sejumlah pintu masuk kota mulai tahun depan.

Pos pemeriksaan itu nantinya akan memantau kesehatan seluruh ternak yang masuk dari luar daerah.

“Kalau ada checkpoint, semua hewan yang masuk bisa dicek kesehatannya sehingga kita bisa memastikan benar-benar bebas penyakit,” ujarnya.

Dody juga memberikan apresiasi terhadap konsep BHQ yang dinilai menjadi contoh ideal penjualan hewan kurban modern di Indonesia.

Menurutnya, penjualan hewan kurban tidak boleh lagi dilakukan sembarangan di trotoar, taman kota, maupun pinggir jalan tanpa pengawasan kesehatan yang jelas.

“Tahun depan kemungkinan akan dibuat aturan lebih ketat soal penjualan hewan kurban supaya lebih tertata dan sehat,” katanya.

Hal senada disampaikan Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian, Prof. Dr. Fadjry Djufry.

Ia menegaskan pentingnya menjaga Kota Bogor dari ancaman penyakit hewan menular seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), Lumpy Skin Disease (LSD), hingga antraks.

Karena itu, seluruh lapak penjualan hewan kurban diwajibkan memiliki Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH).

“Kita harus jaga Bogor supaya bebas dari penyakit hewan menular. Semua hewan yang dijual harus termonitor dan memiliki SKKH,” tegas Fadjry.

Menurutnya, BHQ tidak hanya menjadi tempat transaksi jual beli hewan kurban, tetapi juga sarana edukasi masyarakat mengenai pentingnya kesehatan hewan dan keamanan pangan.

Ia berharap model Bursa Hewan Qurban seperti yang diterapkan BRMP PKH bisa direplikasi di berbagai daerah lain di Indonesia.

Dengan konsep penjualan yang lebih modern, pengawasan kesehatan ketat, fasilitas timbang digital, serta edukasi terbuka kepada masyarakat, BHQ 2026 kini menjadi simbol baru perdagangan hewan kurban yang profesional, aman, sehat, dan terpercaya.

Bagi warga yang takut mendapatkan hewan sakit atau tidak layak kurban, BHQ Bogor kini menjadi jawaban menjelang Idul Adha 2026.

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
Gesha Yuliani Nattasya
Muhammad Ibnu Idris
Gesha Yuliani Nattasya, Muhammad Ibnu Idris
Tim Redaksi :

SELURUH ISI KONTEN BUKAN TANGGUNG JAWAB REDAKSI HOLOPIS.COM

Berita Lainnya

DKI JAKARTA
☀️
00:00:00
Memuat Kalender...
MEMUAT... - ---- H
MEMUAT... 00:00
-- : -- : --

YANG BARU