HOLOPIS.COM, JAKARTA – Di bawah pendar lampu bioskop CGV Pacific Place, sebuah babak baru bagi industri kreatif Indonesia dan Australia resmi dimulai. Peresmian ini menandai langkah besar bagi kedua negara dalam mempererat hubungan budaya melalui karya seni.
Festival Sinema Australia Indonesia (FSAI) kembali menyapa para pencinta film tanah air, namun kali ini dengan skala yang lebih ambisius dari tahun-tahun sebelumnya. Perayaan ini disambut antusias oleh para praktisi film yang telah lama menantikan momentum kolaborasi lintas negara.
Menapakkan kaki di tahun ke-11, festival ini tidak sekadar menjadi ajang tontonan layar lebar bagi masyarakat umum. Penyelenggara ingin memastikan bahwa setiap pemutaran memiliki nilai tambah bagi perkembangan industri lokal.
FSAI kini bertransformasi menjadi sebuah laboratorium kreatif yang menghubungkan sebelas kota di seluruh nusantara. Jangkauan yang luas ini diharapkan dapat menyentuh talenta-talenta muda yang berada di luar ibu kota.
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar, hadir langsung dalam peluncuran tersebut untuk memberikan dukungan penuh pemerintah. Beliau melihat FSAI sebagai katalisator yang mampu mengubah cara pandang kita terhadap sebuah karya film secara fundamental.
Menurut Irene, film bukan lagi sekadar narasi visual yang berhenti begitu saja saat lampu bioskop menyala atau layar ditutup. Film memiliki kekuatan untuk menjadi penggerak ekonomi yang masif jika dikelola dengan ekosistem yang tepat.
Ia menegaskan bahwa film adalah sebuah ekosistem ekonomi yang memiliki napas panjang dan potensi nilai tambah yang sangat besar. Visi ini menjadi landasan bagi pemerintah untuk terus mendukung inisiatif kreatif seperti FSAI.
Irene Umar memberikan pandangan optimis mengenai bagaimana sinergi ini bisa melahirkan model pertumbuhan ekonomi yang baru bagi Indonesia melalui sektor kreatif. “Satu karya film dapat berkembang ke sektor lain seperti lisensi dan produk turunan,” ungkapnya.
“Ini menunjukkan besarnya potensi ekonomi yang dapat dihasilkan. Kolaborasi membuka akses lebih luas, tidak hanya di pasar domestik tetapi juga global. Ini sejalan dengan upaya menjadikan ekonomi kreatif sebagai the new engine of growth,” lanjut Irene dengan penuh keyakinan.
Semangat yang sama juga terpancar dari Duta Besar Australia untuk Indonesia, Roderick Bruce Brazier, yang menyoroti konsistensi festival ini. Baginya, kehadiran FSAI yang menjangkau kota-kota dari Medan hingga Kupang adalah bukti nyata dari diplomasi budaya yang cair.
Festival yang dijadwalkan berlangsung pada 8 hingga 23 Mei 2026 ini akan membawa tujuh film pilihan untuk dinikmati publik. Di antaranya terdapat karya kebanggaan Indonesia seperti Rangga & Cinta serta JUMBO, yang bersanding dengan lima produksi unggulan dari Australia.
Dalam pesannya, Roderick Bruce Brazier menekankan pentingnya kedekatan emosional yang dibangun melalui platform kolaboratif ini. “FSAI telah berkembang menjadi platform kolaborasi yang mempertemukan sineas Australia dan Indonesia serta menjangkau audiens di berbagai kota,” pungkasnya.

