HOLOPIS.COM, BANDUNG – Kepala Badan Pengelola (BP) BUMN sekaligus COO Danantara, Dony Oskaria, menginstruksikan PT Bio Farma (Persero) untuk melakukan transformasi budaya kerja secara fundamental. Langkah ini bertujuan memperkuat posisi perusahaan sebagai tulang punggung sektor kesehatan nasional.
Dalam kunjungan kerjanya ke Bandung pada Senin (20/4), Dony memberikan arahan khusus kepada jajaran pimpinan. Beliau menegaskan bahwa akuntabilitas dan dedikasi kini menjadi variabel mutlak bagi perusahaan dalam menjaga standar keamanan produk bioteknologi.
Langkah strategis ini diambil sebagai bagian dari upaya besar BP BUMN dan PT Danantara Asset Management (DAM). Fokus utamanya adalah optimalisasi aset strategis negara agar memberikan dampak maksimal bagi masyarakat luas.
Dony memandang bahwa sektor kesehatan memiliki dimensi tanggung jawab yang sangat spesifik. Menurutnya, industri ini berbeda dengan sektor lainnya karena bersentuhan langsung dengan keselamatan nyawa manusia.
Oleh karena itu, diperlukan standar profesionalisme yang jauh melampaui batas minimum operasional biasanya. Integritas di setiap lini operasional menjadi kunci utama dalam membangun fondasi perusahaan yang sehat.
“Bio Farma memiliki peran strategis dalam memastikan ketersediaan produk serta layanan kesehatan yang aman dan berkualitas,” ujar Dony saat memberikan arahan kepada jajaran direksi dan manajemen holding farmasi tersebut.
Beliau juga menambahkan bahwa aspek budaya kerja bukan sekadar formalitas. “Penguatan budaya kerja yang berorientasi pada kualitas, akuntabilitas, dan pelayanan menjadi hal yang tidak bisa ditawar,” tegasnya.
Lebih lanjut, BP BUMN menuntut Bio Farma untuk segera melakukan akselerasi pada lini produksi. Inovasi dalam sistem distribusi juga menjadi poin penting yang ditekankan dalam kunjungan kerja tersebut.
Sebagai induk holding farmasi, perusahaan diharapkan tidak hanya terpaku pada pemenuhan stok domestik. Bio Farma harus mampu membangun ekosistem bisnis yang berkelanjutan dan kompetitif.
Hal ini krusial agar perusahaan tetap adaptif terhadap guncangan pasar farmasi global yang kian dinamis. Transformasi bisnis ini juga mencakup penguatan tata kelola perusahaan (GCG) yang lebih ketat.
Melalui sinergi bersama Danantara, Bio Farma diproyeksikan untuk menjadi entitas yang lebih lincah. Perusahaan harus cepat merespons perkembangan teknologi kesehatan dan kebutuhan riil masyarakat.
Sebagai penutup, Dony menekankan pentingnya transparansi untuk memupuk kepercayaan publik. Dengan pengawasan ketat, Bio Farma diharapkan mampu memberikan kontribusi dividen sosial dan ekonomi yang lebih signifikan bagi Indonesia.

