HOLOPIS.COM, JAKARTA – Pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, menegaskan bahwa gencatan senjata dengan Israel harus diikuti dengan penghentian total agresi di Lebanon. Dalam pernyataannya pada Sabtu (18/4), Qassem memperingatkan bahwa pihaknya tidak akan tinggal diam jika terjadi pelanggaran di wilayah Lebanon selatan.
“Tidak ada gencatan senjata dari satu pihak saja,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa para pejuang Hizbullah akan menanggapi setiap bentuk pelanggaran dengan langkah yang dianggap sesuai, dikutip Holopis.com, Senin (20/4).
Qassem juga memaparkan lima tuntutan utama dalam kerangka gencatan senjata, yakni penghentian permanen pertempuran di seluruh wilayah Lebanon, penarikan penuh pasukan Israel, pembebasan tahanan, pemulangan warga yang mengungsi, serta proses rekonstruksi dengan dukungan negara-negara Arab dan komunitas internasional.
Ia menegaskan bahwa Hizbullah belum dikalahkan dan akan terus memperjuangkan kemerdekaan serta kedaulatan Lebanon.
Di sisi lain, Qassem menyatakan kesiapan Hizbullah untuk membuka “babak baru” kerja sama dengan pemerintah Lebanon, termasuk bekerja bersama lembaga negara untuk memperkuat persatuan nasional.
Gencatan senjata selama 10 hari antara Israel dan Lebanon sendiri mulai berlaku sejak tengah malam antara Kamis (16/4) dan Jumat (17/4), menyusul pengumuman Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Namun, situasi di lapangan masih memanas. Pasukan Israel Defense Forces (IDF) menyatakan telah menyerang militan yang mendekati “Garis Kuning”, batas utara zona keamanan Israel di Lebanon selatan, dalam 24 jam terakhir.
Selain itu, militer Israel dilaporkan mulai membangun fasilitas militer baru di dekat Desa Kfarchouba, wilayah timur perbatasan Lebanon selatan.
Sumber keamanan Lebanon menyebutkan bahwa aktivitas tersebut melibatkan alat berat seperti buldoser dan ekskavator yang dikawal tank Merkava, dengan pekerjaan berupa perataan tanah, penggalian, serta pembangunan tanggul.
Lokasi pembangunan itu berada di kawasan perbukitan yang dikenal sebagai Rbaa al-Teben, sekitar 1,5 kilometer dari garis demarkasi Lebanon-Israel, yang sebelumnya merupakan area kebun zaitun dan anggur. Perkembangan ini menambah ketegangan di tengah upaya gencatan senjata yang masih berlangsung.

