HOLOPIS.COM, JAKARTA – Kemampuan mendeteksi ancaman dinilai sebagai faktor paling krusial dalam menjaga ketahanan siber nasional.
Stanislaus Riyanta, dosen Program Studi Kajian Ketahanan Nasional Universitas Indonesia, menegaskan bahwa kegagalan dalam mendeteksi ancaman akan berujung pada kerentanan serius.
“Yang paling penting adalah apakah kita mampu mendeteksi ancaman. Kalau ancaman saja tidak bisa kita deteksi, pasti akan terjadi dan kita akan jebol,” ujar Stanislaus Riyanta, kepada Holopis.com, Rabu (15/4/2026).
Menurutnya, langkah awal yang harus dilakukan adalah membangun kapasitas, baik dari sisi kemampuan maupun pengetahuan. Hal ini menjadi fondasi sebelum suatu ancaman dapat dikenali dan diukur tingkat risikonya.
“Makanya langkah pertama adalah membangun kemampuan dan pengetahuan sebelum kita mendeteksi ancaman itu. Kemudian kita ukur kadarnya,” jelasnya.
Lebih lanjut, Stanislaus memaparkan empat tahapan penting dalam menghadapi ancaman, yaitu pencegahan (prevention), kesiapan (preparation), respons (response), dan pemulihan (recovery). Keempat tahap ini, menurutnya, harus berjalan secara sistematis dan terintegrasi.
Ia juga menekankan bahwa pencegahan tetap menjadi prioritas utama. Namun, upaya tersebut hanya dapat dilakukan jika karakteristik ancaman telah dipahami dengan baik.
“Dengan empat langkah ini, kita bisa menghadapi ancaman. Yang paling penting adalah upaya pencegahan. Tapi untuk mencegah, kita harus tahu karakteristik ancamannya seperti apa,” tambahnya.
Di sisi lain, ia mengingatkan adanya risiko besar jika suatu negara tidak memahami ancaman yang dihadapi, termasuk tidak mengetahui siapa aktor di baliknya.
“Yang saya khawatirkan adalah kita tidak tahu ancamannya apa dan tidak tahu musuhnya siapa. Ini yang berbahaya,” tegasnya.

